Apakah ini sudah jadi suratan takdir hidup Prabowo? Terlingkupi, di dalam jiwa dan marwahnya ibarat peribahasa Jawa bertutur “mikul duwur mendem jero”.
Betapa tidak! Prabowo Subianto sebagai menantu harus menjunjung tinggi-tinggi kehormatan mertuanya sebagaimana menghormati terhadap orang tuanya sendiri dahulu.
Soeharto seorang Presiden yang telah berkuasa 32 tahun dengan masa yang disebut Orde Baru. Orde Pembangunan. Orde harapan yang paling ditunggu oleh rakyatnya setelah menempuh jalan panjang melakukan revolusi perjuangan 22 tahun Indonesia memproklamasikan diri merdeka.
Soeharto berpangkat jenderal penuh, bahkan jenderal besar. Orang terkuat dan memiliki quasi titah dari kedaulatan rakyat tertinggi. Rezim penguasa negeri tiada tara. Mewariskan wisik pusaka kalbu yang paling disuka oleh para petani, nelayan dan buruh suku Jawa hingga kini, adagium kenangan “Masih penak di zamanku toh?”.
Ketika Soeharto jatuh dilengserkan oleh kepemimpinan kolektif pergerakan mahasiswa 1998, Prabowolah yang ketiban sengsara dan derita juga. Sungguh pengorbaban sangat luar biasa harus berpisah dengan keluarga. Bertahun-tahun mengasingkan diri pula di tempat antah berantah di luar negeri.
Di tengah-tengah carut-marut negeri yang ditinggalkannya terjerembab ke dalam kubangan bara amarah antara perasaan ambiguitas dan ambivalensi publik dan keluarga:
Atas adanya tuduhan kecaman fitnah atau bukan melakukan kejahatan HAM mempersekusi dan membunuh mahasiswa demonstran. Pun yang ditersangkakan sebagai bentuk pengkhianatan kepada mertuanya itu.
Pengalaman pahit getir ini takkan bisa bertahan hidup dijalaninya, jika bukan seorang Prabowo Subianto yang menghadapinya.
Duapuluh enam tahun kemudian setelah tepatnya 20 Oktober 2024 saat Prabowo dilantik menjadi Presiden ke-8, filosofi peribahasa ujian hidup mikul duwur mendem jero itu terulang dibiarkan menghampiri dan melingkari jiwa dan marwahnya kembali.
Mikul duwur, karena Prabowo tengah memikul tanggung jawab tugas negara sangat berat memimpin, mengayuh dan menakhodai mengantarkan perahu bangsa ini menuju loka nusantara kemakmuran dan keadilan bagi rakyatnya.
Mendem jero, dilalahnya — biarlah waktu yang akan menjawabnya apakah itu merupakan kesialan dan atau keberkahan bagi dirinya dan bangsa ini—perahu besarnya yang dinakhodainya itu dipertemukan dan dihadapkan oleh gelombang tsunami besar berupa kedigdayaan kekuatan politik oleh kegilaan ambisiusitas keberlanjutan Jokowi berkuasa.







