Negara, Danantara dan Muhamadiyah

Meski kelihatannya sebagai upaya untuk menghindari hutang luar negeri bertambah. Danantara ini sesungguhnya sangat mengerikan. Sudah menggunakan pelibatan dana simpanan penyertaan masyarakat. Jika oleng sedikit saja akibat adanya penyimpangan atau penyelewengan berakibat destruktif langsung bagi kepercayaan publik yang sesungguhnya sudah kritis kepada negara.

Dikhawatirkan —apalagi praktis Danantara diarsiteki dan dikelola oleh orang-orang terdekat dari lingkaran Jokowi—akan memanipulasi proyek, lagi-lagi balik lagi hanya kepada kepentingan di lingkungan komunitas mereka sendiri.

Terlebih, LBP selaku Ketua DEN sudah berkoar-koar untuk melakukan kerjasama hanya dengan China-Tiongkok melakukan back to back menggaransi jumlah yang sama 14.000 triliun. Bersamaan kunjungan PM Li Qiang dengan delegasinya kemungkinanmenyambut dan menjalin kerjasama berdasarkan rekam jejaknya sudah pasti akan sangat menguntungkan mereka.

Seperti diketahui perilaku investasi China-Tiongkok tidak saja secara finansial sangat mahal, bahkan mereka pun menetapkan prasyarat semua faktor-faktor produksinya dikuasai mereka pula.

Terutama, di sektor pertambangan jangan berharap Indonesia diberi nilai tambah sebagai benefit hilirisasi. Indonesia seperti disekap hanya berkutat di hulu sebagai sumber penyedia bahan baku yang akan mereka beli dengan harga sangat murah. Maka, sektor yang sangat diandalkan ini takkan memberikan income besar bagi negara sampai kapanpun.

Jelas, pada kenyataannya negara dan Danantara lagi-lagi melakukan pengingkaran integritas, loyalitas dan moralitas terhadap pasal 33 UUD 1945 bahwa “Bumi dan Air dan Kekayaan Alam yang Terkandung di dalamnya Dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Sekarang bandingkan dengan hanya sebuah organisasi nirlaba yang sejak semula concern dan konsisten dengan nilai integritas, loyalitas dan moralitas di bidang pendidikan dan kesehatan bagi rakyat menengah ke bawah yang mayoritas di Republik ini, Muhamadiyah sejauh ini sudah memiliki aset 20.000 triyun menyamai hutang seluruh komponen negara, BUMN dan BUMS. Atau nyaris 40% melebihi aset Danantara sendiri yang akan dipertaruhkan investasinya untuk penjaminan investasi negara yang akan dipenuhi risiko marabahaya politik.

Muhamadiyah, adalah organisasi terkaya di Indonesia dan dunia serta telah lebih banyak memberikan kemaslahatan bagi rakyat Indonesia.

Pun pada akhirnya Muhamadiyah pun mampu menumbuhkembangkan kemandirian ekonomi negara dan bangsa ini dengan semakin memperkokoh pondasinya memasuki pasar perekonomian komersial namun relatif kompetitif ketika Muhamadiyah pun mulai mengembangkan berkiprah di usaha perbankan syariah, perdagangan melalui super dan mini market Mentari Mart dan Zendo layanan ojek online.

Jadi, fakta dari perbandingan ketiga institusi tersebut manakala jauh-jauh bahkan melakukan pengingkaran nilai-nilai terhadap integritas, loyalitas dan moralitas pada semangat pasal 33 UUD 1945 sebesar apapun peran institusi seperti negara dan Danantara yang pada akhirnya hanya dikorupsi oleh segelintir elitisme sampai kapan pun negara takkan mampu mengantarkan kesejahteraan dan kemakmuran untuk rakyatnya.

Sungguh keterlaluan dan memalukan institusi negara dan Danantara ini kepada Muhamadiyah yang semula dibentuk hanya sebagai sekadar organisasi nirlaba! []

Babakan Mustikasari, Kota Bekasi, 26 Mei 2025

Dairy Sudarman, Pemerhati politik, ekonomi dan kebangsaan.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU