Pemuda Motor Kebangkitan Umat: Quo Vadis Aksi Demonstrasi?

Aksi demonstrasi telah menggema di berbagai wilayah pada bulan Agustus lalu. Masyarakat dari berbagai kalangan dan usia ikut serta dalam aksi ini. Tak terkecuali kalangan gen-Z yakni para mahasiswa dan pelajar. Aksi-aksi tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan-kebijakan para pejabat yang tidak berpihak kepada rakyat bahkan membuat rakyat geram diantaranya rencana kenaikan tunjangan anggota DPR. Meski demikian, sangat disayangkan para pemuda ini rentan terprovokasi untuk melakukan kerusakan saat berdemonstrasi.

Sebagaimana disampaikan Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim terkait fenomena meningkatnya jumlah anak di bawah umur yang ikut aksi demonstrasi. Menurutnya, meskipun demo bisa jadi ajang belajar menyampaikan pendapat, namun para remaja rentan terprovokasi karena kontrol diri mereka belum matang. Ia pun menjelaskan bahwa di usia tersebut, remaja cenderung ingin terlihat keren dan berani di depan teman-temannya atau publik. Hal ini bisa bikin mereka bertindak impulsif, apalagi dalam situasi massa yang penuh tekanan dan emosi.

Rose juga menekankan pentingnya memastikan anak-anak benar-benar paham isu yang mereka perjuangkan sebelum ikut turun ke jalan. Ia pun mengajak keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk lebih aktif memberikan edukasi politik yang sehat dan sesuai usia, sekaligus memperhatikan dampak psikologis dari keterlibatan anak dalam aksi demonstrasi (Inforemaja.id, 02/09/2025).

Mau Dibawa Kemana Perubahannya?

Unjuk rasa kemarin lagi-lagi diwarnai aksi kekerasan meski besar kemungkinan ditunggangi oleh para provokator. Bahkan setelah tewasnya seorang driver ojol akibat terlindas mobil rantis anggota Brimob, rakyat pun semakin bertambah amarahnya. Mereka membakar gedung DPRD dan menjarah rumah beberapa anggota dewan. Lalu, muncul beberapa tuntutan yang tertuang dalam 17+8 berupa tuntutan jangka pendek dan jangka panjang. Tak berselang lama, beberapa anggota DPR yang dianggap menyulut amarah rakyat pun dinonaktifkan, beberapa menteri pun segera diganti tak terkecuali Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Lantas cukupkah dengan resuffhle ini mampu menjadi solusi? Mampukah langkah ini memperbaiki kondisi negara yang telah carut marut? Jangan sampai hal tersebut hanya untuk meredam gejolak sesaat. Namun, kezaliman terus berjalan. Tentu, para pemuda yang dikenal gen Z hari ini harus mampu dan mau berpikir cerdas bahkan mencerdaskan masyarakat. Jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama.

Sebagaimana halnya dulu reformasi yang menjadi awal perubahan rezim atau pergantian pemimpin namun ternyata tak mampu mengubah kondisi negeri menjadi lebih baik. Fakta yang terjadi adalah rakyat terus menderita dalam kemiskinan dan keterjajahan berbagai bidang.

Sebagai agen perubah, para pemuda tentu harus tahu ada yang salah dalam pengaturan negara ini. Pergantian pemimpin saja tidak cukup. Lalu apa yang salah dan apa yang harus diubah?

Pemuda dan Perubahan Hakiki

Sejak awal penciptaannya, manusi memiliki gharizah baqa (naluri mempertahankan diri) dalam menolak kezaliman dan akan berupaya mencari solusi untuk menghilangkan kezaliman tersebut. Maka marah merupakan hal yang wajar, saat kita dizalimi.

Islam juga mengatur muhasabah lil hukkam dengan mekanisme yang sama dari sejak Rasulullah saw. Sebagaimana dakwah, menyeru kepada penguasa pun harus dengan cara yang makruf. Tidak dengan jalan kekerasan.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nahl ayat 125 yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”.

Potensi pemuda sejak masa Rasulullah saw selalu menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan secara hakiki (taghyir). Sebagian besar sahabat Rasul saw. yang termasuk assabiqunal awwalun adalah para pemuda. Mereka diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib (8 tahun), Zubair bin al-Awwam (8 tahun), Thalhah bin ‘Ubaidillah (11 tahun), Arqam bin Abi al-Arqam (12 tahun), ‘Abdullah bin Mas’ud (14 tahun) dan masih banyak lagi.
Selain itu, saking mulianya orang yang mendakwahi penguasa, ia disebut oleh Rasulullah Saw sebagai pemimpin para syuhada.

“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya.” (HR Al-Hakim dan Ath-Thabarani).

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU