Meskipun 2029 masih lama. Genderang perang sudah ditabuh. Bukan perang antargeng mafia. Atau sekadar tawuran antageng motor dan anak sekolahan. Tetapi, antardinasti politik bakal turun ke gelanggang pertempuran politik memperebutkan kekuasaan puncak yang paling elitis. Menampuk dan mendapuk kursi dan istana kepresidenan Republik Indonesia.
Di Republik ini sesungguhnya ada empat dinasti politik. Maka, dipastikan perang akan berlangsung dalam satu kotak peta politik antardinasti :antara dinasti Soeharto-Prabowo; dinasti Soekarno-Megawati-Puan; dinasti SBY-AHY; dan dinasti terbaru Jokowi-Gibran-Kaesang-Bobby Nasution.
Sinyal akan genderang itu ditabuh terdengar saat Jokowi berujar bahwa ada kekuatan besar dibalik penyasaran dirinya terjerat modus operandi kejahatan ijazah palsu. Dan orang besar di belakang layar itu, adalah orang selevel dirinya dengan simbolikum profil berjas biru.
Tuduhan yang menyebar ke publik bakal bisa menjadi isu bola liar itu, adalah suatu benih baru dari bentuk proxy war yang sudah mulai muncul ke permukaan. Di tengah-tengah perseteruan linier antara Jokowi dan Megawati yang sudah berjalan sekian lama ini.
Boleh jadi Megawati pun tengah mempersiapkan amunisi tempur yang bisa sewaktu-waktu diledakkan. Apalagi, dakwaan Hasto sudah divonis 3,5 tahun atas kasus sidang Harun Masiku.
Apakah 37 dokumen kasus Jokowi akan dibuka secara telanjang ke publik? Dan salah satu ledakan besarnya di antaranya akan dilaporkan ke polisi? Untuk menunjukkan bahwa beberapa kasusnya memiliki dua alat bukti yang kuat?
“Proxy War” yang ekuivalen kini berbentuk segitiga sebangun itu akan berubah menjadi kotak bilamana disertakan isu ketegangan yang masih tersembunyi antara Prabowo Subianto dengan Gibran Rakabuming Raka.
Keduanya, tak bisa dipungkiri tengah sama-sama melakukan “kudeta merangkak”. Karena gerakan kudeta keduanya dilakukan secara senyap. Mirip kucing mengendap ketika akan menyambar tikus mangsanya.
Keduanya tinggal merebut momentum: Gibran yang tengah menggendong beratnya kasus Fufufafa. Tidak bisa dilepaskan pula upaya pemakzulan dari Forum Purnawirawan TNI dan komunitas oposan, mahasiswa dan buruh yang tak boleh di bilang sepele atau sebelah mata bila mereka sudah melakukan gerakan exodus demo besar-besaran.
Sedangkan, kudeta terhadap Prabowo sedang diborgol oleh kasus tersanderanya sendiri. Yang kuncinya dipegang oleh Jokowi. Atau, ketika suatu masa terjadi force majeur yang membuat Prabowo sakit lantas meninggal. Adalah, penantian Gibran yang tak mustahil terjadi ibarat mendapatkan lucky draw.
Dari perseteruan empat dinasti politik dalam perang kotak yang paling dekat waktunya menjadi sasaran korban, adalah Jokowi sendiri akan diadili dan dibui serta Gibran dimakzulkan.
Segitiga legacy kekuasaan Megawati dan SBY bersama Prabowo, adalah ibarat pucuk tajam dari busur panah yang menancap di dada tepat di jantung Jokowi dan Gibran yang bisa dilepaskan oleh seorang sniper busur panah yang takkan terlacak siapa identitas orangnya.







