Simpati dan solidaritas nasional dan internasional terus berdatangan. Bantuan berdatangan. Jenazah dan korban selamat diungsikan. Bandara Sultan Iskandar Muda di Blang Bintang yang biasanya sepi, saat itu sampai tak mampu menampung pesawat yang tak henti berdatangan dari berbagai negara.
Sebelum bala bantuan internasional tiba di Banda Aceh, sejumlah gajah jinak BKSDA dikerahkan untuk menyingkirkan dan membersihkan puing-puing yang menimbun rumah-rumah penduduk.
Sekitar sepekan setelah tsunami, Banda Aceh yang semula menjadi “kota mati” akibat tsunami, mendadak ramai dipenuhi tentara dan pekerja kemanusiaan nasional serta asing.
Sejumlah zona aman tsunami dipenuhi tenda-tenda darurat untuk menampung korban tsunami, termasuk mereka yang terluka. Sedangkan lainnya ditampung di rumah penduduk dan masjid di kawasan aman tsunami.
Relawan bekerja maksimal mengevakuasi jasad-jasad korban. Mereka kemudian membawanya ke sejumlah tempat untuk dikuburkan secara layak, termasuk di Pamakaman Siron dan Lampaunerut di Kabupaten Aceh Besar.
Sementara itu, jenazah yang ditemukan di pesisir pantai Banda Aceh dimakamkan di Ulee Lhue, Kecamatan Meuraxa. Mereka dimakamkan di tiga lokasi. Jumlahnya sampai puluhan ribu jenazah.
Awal peristiwa
Minggu pagi itu tanggal 26 Desember, 20 tahun silam, masyarakat beraktivitas normal seperti biasa. Mereka berolahraga, berjalan kaki, berlari-lari kecil, sementara para pedagang mulai membuka usaha di sepanjang Jalan Hasan Dek Beurawe di Kota Banda Aceh.
Anak-anak bersuka cita, joging bersama orang tua mereka, termasuk mereka yang tengah berada di Pantai Ulee Lhue. Ada yang cuma duduk santai sembari menghirup minuman kopi dan teh. Sebagian lagi berenang di pinggir laut.
Sudah jadi tradisi di Aceh, pagi hari setelah menunaikan shalat subuh, lelaki berkumpul di warung-warung kopi terdekat. Di sana ada istilah,”meski sudah disiapkan kopi oleh isteri, kopi pagi belum lengkap sebelum ke warung”.
Para lelaki di Aceh gemar berkumpul di warung kopi karena di sana ada beribu cerita, mulai soal politik, sosial, sampai soal ekonomi. Semuanya dengan mudah diperoleh di warung kopi, meski yang diminum hanya secangkir kopi.
Tetapi pagi itu berbeda. Gempa dahsyat merusak kenormalan itu. Para pria di warung kopi yang asyik bercerita tentang situasi terkini Aceh, berhamburan keluar. Suasana makin kalut, kala gelombang tsunami kemudian menerjang Aceh.







