Saat itu Aceh lagi dipanaskan oleh konflik bersenjata antara TNI/Polri dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang eskalasinya semakin luas.
Namun, hari itu suasananya sungguh berbeda. Polisi bersenjata lengkap berlarian bukan hendak memburu kelompok sipil bersenjata, tapi berusaha menyelamatkan diri karena tsunami dari arah pantai, yang terjadi tak lama setelah gempa.
Truk reo yang biasanya berpenumpang tentara atau polisi, kini disesaki warga sipil. Bukan takut karena konflik, melainkan oleh dahsyatnya bencana alam. Perhatian Aceh yang semua diselimuti trauma konflik bersenjata, seketika beralih kepada gempa dan tsunami.
Beberapa aparat keamanan hanya berjalan dan terduduk diam membisu. Sambil tetap menenteng senjata api, hati mereka terguncang oleh bencana sedahsyat itu. Semua menjadi korban, tua dan muda, tak mengenal status, dari orang biasa sampai tentara, polisi, sampai pejabat.
Kapolresta Banda Aceh AKBP Sayed Husaini, wartawan Nadjamuddin Umar dari Kompas, Muhammad Rokan dan Erwiyan Safri dari Serambi Indonesia, dan M Saleh dari Harian SIP Medan, pun termasuk di antara ratusan ribu yang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami 20 tahun lalu itu.
Kendati pilu, pahit dan trauma berat akibat tsunami, warga bumi “Teuku Umar” tetap tegar dan sabar. Mereka berprinsip “tidak ada yang bisa menolak jika Allah SWT berkehendak”.
Kereligiusan warga Aceh itu membuat mereka meyakini musibah adalah takdir ilahi. Itu menjadi modal dan kekuatan moral yang membuat mereka bangkit, meski harus kehilangan orang-orang terkasihnya.
Dua dekade gempa dan tsunami Aceh, diharapkan mampu menjadi pelajaran tentang pentingnya mitigasi bencana bagi generasi kini dan ke depan. Apalagi Indonesia berada di jalur “cincin api” atau jalur rawan bencana.
Pemerintah, masyarakat dan semua komponen bangsa lainnya agar punya kepedulian dan membangunkan kesadaran kolektif terkait antisipasi jika bencana tsunami terulang, sehingga mampu meminimalkan korban jiwa dan kerusakan terhadap infrastruktur publik lainnya. [Azhari]
Sumber: ANTARA







