Sering Menatap Layar Gawai Bikin Mata Berair? Ini Trik Taktis untuk Merawatnya

Jakarta (Ngabarin.net) — Jangan meremehkan kondisi mata yang kerap berair tetapi sebenarnya terasa kering. Kondisi ini rentan terjadi terutama jika aktivitas harian Anda menuntut untuk terus menatap layar digital atau sering terpapar polusi udara.

“Mata yang terus-menerus berair dan diagnosis mata kering terdengar seperti kontradiksi. Sebenarnya tidak demikian, memahami alasannya dapat mengubah cara Anda merawat mata,” kata dokter oftalmologi dari Marengo Asia Hospitals, Gurgaon, Shibal Bhartiya, seperti dilaporkan Hindustan Times pada Senin (22/6).

Bhartiya menjelaskan bahwa kebiasaan menatap layar gawai membuat frekuensi berkedip seseorang berkurang drastis hingga menyisakan sepertiga dari intensitas normal. Akibatnya, kelenjar minyak di kelopak mata menjadi mudah tersumbat, sementara lapisan air mata menguap jauh lebih cepat daripada proses pembentukannya.

Kondisi mata kering ini akan semakin diperparah oleh faktor eksternal lingkungan. Paparan polusi udara, durasi berada di ruangan berpendingin, serta perjalanan pulang-pergi yang panjang menjadi pemicu utamanya.

Air mata yang melapisi permukaan penglihatan manusia sebenarnya tidak hanya terdiri atas air belaka. Lapisan ini memiliki tiga komponen utama yang meliputi minyak, air, dan lendir (mukus) yang bekerja bersama menjaga permukaan mata tetap halus serta stabil.

Ketika stabilitas lapisan tersebut terganggu, mata otomatis akan mengirimkan sinyal darurat ke otak. Otak kemudian merespons dengan memproduksi air mata dalam jumlah berlebih sebagai bentuk perlindungan instan yang dikenal sebagai reflex tearing.

“Respons ini bersifat reaktif dan berlebihan, tetapi tidak banyak membantu dalam memberikan pelumasan yang sebenarnya. Akibatnya, mata bisa mengalami kekeringan sekaligus berair secara bersamaan,” tutur dia.

Menurut Bhartiya, ada beberapa indikasi klinis pada mata kering yang patut diwaspadai oleh masyarakat. Gejala tersebut meliputi kondisi mata berair yang semakin parah menjelang malam hari, munculnya sensasi terbakar atau perih, hingga penglihatan kabur yang baru membaik setelah berkedip.

Indikasi lainnya adalah sensitivitas berlebih terhadap embusan angin atau udara dari pendingin ruangan (AC). Selain itu, mata akan tetap terasa lelah meskipun Anda sudah mendapatkan tidur yang cukup semalaman.

Bhartiya menyarankan beberapa langkah taktis yang dapat membantu meredakan kondisi ini secara mandiri di rumah. Caranya adalah dengan mengompres kelopak mata menggunakan kompres hangat, rutin mengonsumsi suplemen omega-3, serta memangkas durasi menatap layar digital.

Masyarakat juga diimbau untuk membiasakan diri berkedip secara sadar dan teratur saat sedang menggunakan perangkat gawai. Langkah preventif ini dinilai sangat membantu menjaga kelembapan mata secara alami.

Apabila satu atau beberapa gejala tersebut terus berlangsung selama lebih dari dua minggu, masyarakat disarankan untuk segera bertindak. Sebaiknya langsung menjalani pemeriksaan mata secara menyeluruh ke dokter spesialis dan menghindari pembelian obat tetes mata secara mandiri di apotek tanpa resep resmi. []

Sumber: ANTARA

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU