Tersandung Kontroversi Tragedi Gwangju, Starbucks Korea Tutup Serentak Seluruh Gerai

Data pasar menunjukkan volume transaksi sempat anjlok hingga 26 persen pada pekan pertama setelah kontroversi merebak.

Meskipun aktivitas transaksi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan parsial dengan kenaikan sebesar 12,8 persen pada pekan pertama Juni, posisinya masih berada 25 persen di bawah level sebelum krisis.

Tragedi pembantaian Gwangju sendiri menyisakan memori yang sangat menyakitkan bagi mayoritas masyarakat Korea Selatan.

Selama sepuluh hari yang mencekam pada masa itu, pasukan parakomando dikerahkan untuk menumpas demonstrasi prodemokrasi yang menentang kekuasaan diktator militer Chun Doo-hwan.

Sejumlah kelompok organisasi korban menyatakan bahwa ratusan orang tewas akibat tindakan represif tersebut.

Dalam promosinya, Starbucks memberi tajuk tanggal kampanye tersebut dengan nama “Tank Day”.

Selain itu, materi iklan mereka juga memuat slogan “gebrak meja” yang membangkitkan ingatan publik terhadap alasan kepolisian yang sangat keji atas kematian aktivis mahasiswa, Park Jong-chul, akibat disiksa pada tahun 1987.

Kala itu, otoritas keamanan berbohong kepada publik dengan mengklaim bahwa mahasiswa tersebut tewas terkena serangan jantung mengejutkan setelah petugas menggebrak meja saat interogasi.

Manajemen Shinsegae Group mengungkapkan bahwa tim pemasar memilih slogan tersebut setelah berkonsultasi dan menggunakan saran dari kecerdasan buatan.

Ironisnya, hasil investigasi internal menunjukkan beberapa manajer yang menyetujui kampanye tersebut sama sekali tidak pernah membuka berkas lampiran surat elektronik yang berisi materi pemasaran terkait.

Kendati perusahaan langsung menghentikan kampanye tersebut dalam hitungan jam, dampak buruknya telanjur meluas hingga berujung pada pemecatan direktur utama pada hari yang sama.

Massa yang marah segera menggelar unjuk rasa di depan berbagai gerai Starbucks sesaat setelah promosi tersebut diluncurkan.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU