Pihak Starbucks menyatakan, “Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden pemasaran yang tidak dapat diterima ini dan berkomitmen agar hal serupa tidak akan pernah terjadi lagi.”
Chung Yong-jin telah merilis permohonan maaf tertulis dan menyampaikan penyesalannya dalam konferensi pers yang disiarkan televisi seraya membungkuk sedalam tiga kali sebagai bentuk penyesalan formal.
Kantor pusat Starbucks di Seattle juga telah mengirimkan surat permohonan maaf tertulis secara langsung kepada Yayasan 18 Mei.
Surat tersebut dikirimkan setelah lembaga utama yang mewakili para korban tragedi Gwangju itu melayangkan protes dan menuntut jawaban resmi dari korporasi global tersebut.
Meskipun penyelidikan kepolisian masih terus berjalan, investigasi internal perusahaan mengklaim tidak menemukan bukti adanya unsur kesengajaan dalam penyusunan materi promosi.
Saat ini, Kepolisian Seoul telah resmi mendaftarkan Chung Yong-jin beserta mantan direktur utama Starbucks Korea sebagai tersangka dalam kasus pidana tersebut.
Hingga kini, perdebatan seputar Pemberontakan Gwangju tetap menjadi salah satu garis retakan sosial paling sensitif dan mendalam di Korea Selatan.
Sejumlah kelompok sayap kanan ekstrem terus memelihara narasi lama bentukan rezim penguasa terdahulu yang mendiskreditkan para demonstran Gwangju sebagai simpatisan Korea Utara.
Padahal, Mahkamah Agung Korea Selatan pada awal tahun ini telah mengetok palu dan menetapkan bahwa klaim sayap kanan tersebut merupakan kebohongan serta bentuk pencemaran nama baik.[]
Sumber: The Guardian







