“Allah menurunkan kepadanya surat, ‘Wal ‘Ashr..”, jawab Amr. Musailamah berpikir sejenak. Lalu ia mengangkat kepala dan berkata, “Allah juga menurunkan kepadaku surat yang sama.”
“Apa itu?”, tanya Amr.
“Hai kelinci, hai kelinci. Kamu hanya menerima, dan tidak pernah memberi. Aku akan membiarkan untukmu lubang galian.”
“Bagaimana menurutmu, Amr?”, tanya Musailamah.
“Demi Allah, sebenarnya kamu sudah tahu kalau aku tahu kamu itu bohong”, jawab Amr.
Disebutkan oleh para ulama ahli sejarah, bahwa Musailamah si pendusta memiliki keinginan yang sangat besar untuk meniru Nabi Saw. Tetapi keinginannya itu tidak pernah terwujud.
Ia mendengar Nabi Saw meludah ke sebuah sumur, dan seketika air sumur itu menjadi melimpah ruah. Namun ketika ia melakukan hal yang sama, sumur yang diludahinya malah menjadi kering. Bahkan ketika sisa air sumur yang diludahinya itu ia gunakan untuk menyirami pohon korma, pohon itu malah mati.
Beberapa anak yang ditemui oleh Musailamah lalu diusap kepalanya dengan maksud agar mendapatkan berkahnya, sebagian malah merasa pusing dan sebagian lagi malah mengalami celat lidahnya. Konon ia pernah mendoakan seseorang yang tengah menderita sakit mata sambil mengusap sepasang matanya, tetapi orang tersebut malah menjadi buta.
Suatu hari si terkutuk Musailamah ini tiba di Madinah sebagai delegasi yang menghadap Rasulullah Saw, dan sebagai tamu beliau pun menghormatinya. Dengan sombong ia berkata, “Seandainya Muhammad menyerahkan urusan ini kepadaku sepeninggalnya nanti, aku akan mengikutinya.”
Mendengar itu beliau Saw membalas, “Seandainya kamu minta aku menyerahkan tongkat ini, tidak akan aku berikan. Dan kalau kamu sampai mundur, sungguh Allah akan menyembelihmu. Aku sudah tahu siapa sebenarnya kamu ini.”
Pada suatu malam Nabi Saw bermimpi dan melihat seolah-olah di tangannya ada sepasang gelang dari emas. Beliau merasa bingung dengan barang tersebut. Lalu Allah mewahyukan kepada beliau untuk meniupnya. Setelah ditiup, sepasang gelang itu tiba-tiba terbang bersamaan dengan munculnya dua orang pendusta, yakni pendusta dari Shan’a bernama Aswad Al-Anasi, dan yang kedua pendusta dari Yamamah bernama Musailamah. Begitulah kenyataan yang akhirnya terjadi.







