Mereka berdua akhirnya lenyap berikut dengan urusannya masing-masing. Aswad Al-Anasi disembelih di rumahnya, sementara Musailamah juga disembelih oleh Allah SWT lewat tangan Wahsyi bin Harb yang menusuknya dengan tombak sehingga ia menggelepar-gelepar persis seekor onta yang disembelih. Sementara Al-Aswad dihantam kepalanya oleh Abu Dujamah di halaman rumahnya sendiri saat Perang Yamamah, karena ia pernah membunuh kedua teman dekatnya yakni Muhkam bin Thufail dan Rijal bin Anfawat.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, sesungguhnya Musailamah mengirim sepucuk surat kepada Rasulullah Saw yang isinya; “Bismillahirrahmanirrahim. Dari Musailamah utusan Allah untuk Muhammad utusan Allah. Salam hormat bagimu. Amma ba’du. Aku mirip dengan Anda dalam banyak hal. Bedanya aku orang dusun, dan Anda orang kota. Separoh bumi ini milikmu, dan separohnya lagi milik kami. Tetapi dasar orang-orang Quraisy itu kaum yang melampaui batas.”
Nabi Saw membalas surat itu; “Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad utusan Allah, untuk Musailamah sang pendusta. Keselamatan selalu bersama orang yang mengikuti petunjuk yang benar. Amma ba’du. Sesungguhnya bumi itu milik Allah. Dia mewariskannya kepada hamba-hamba(Nya) yang Dia kehendaki. Dan akibat yang baik selalu bagi orang-orang yang bertakwa.”
Ketika Rasulullah Saw wafat, sepeninggal beliau, Musailamah merasa satu-satunya yang akan menguasai urusan tanpa ada pesaing. la berangan-angan menjadi pemimpin kaumnya yang ditaati. Tetapi tidak lama kemudian sepeninggal Rasulullah Saw, Allah menguasakan salah satu pedang-Nya untuk membinasakannya, sehingga isi perutnya terurai dan kepalanya pecah. Allah pun segera membawanya ke neraka sebagai tempat tinggal yang paling buruk. []
Sumber: Sa’ad Yusuf Abu Aziz. Kisah Akhir Hayat Orang-Orang Zalim (terjemahan). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2024.







