Waspada! Candu AI Picu ‘Otak Goreng’ dan Kelelahan Mental

Perusahaan AI menjanjikan bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas secara drastis.

Terlepas dari benar atau tidaknya hal itu, teknologi ini memungkinkan para pekerja untuk melakukan banyak tugas sekaligus dengan kecepatan dan beban kerja yang jauh melampaui batas kemampuan normal mereka.

Inilah yang tampaknya menjadi bagian dari masalah terkait dampak kognitif pekerja.

Paradoks produktivitas AI

Yang menarik, studi tersebut juga menemukan paradoks bagi pegawai, di mana AI bisa mengurangi stres sekaligus menambah stres bagi pekerja.

Ketika AI digunakan untuk mengambil alih pekerjaan rutin dan repetitif, tingkat stres pekerja justru menurun.

Namun, ketika pekerja harus mengawasi banyak tools AI (tiga atau lebih) sekaligus atau berpindah-pindah antaralat AI, tekanan mental meningkat tajam.

Hal ini disebabkan oleh informasi yang terlalu banyak, perpindahan tugas yang cepat, serta kebutuhan untuk terus memeriksa hasil kerja AI.

Banyak pekerja menggambarkan pengalaman brain fry sebagai perasaan seperti “kabut mental” (mental fog) atau kepala terasa penuh seperti banyak tab browser yang terbuka sekaligus.

Dalam beberapa kasus, pekerja bahkan merasa lebih sibuk mengelola alat AI dibanding benar-benar menyelesaikan pekerjaan utama.

Jack Downey, Head of Strategy, Operations and Product di Webster Pass Consulting, mengatakan dari pengalamannya, penggunaan AI sehari-hari juga membawa tekanan mental tambahan.

Ia menjelaskan bahwa bekerja dengan AI sering membuat seseorang harus terus menunggu hasil, berpindah tugas, lalu memeriksa kembali hasil kerja mesin.

“Kadang satu tugas selesai dalam lima detik, yang lain butuh 50 detik, dan yang lain lagi lima menit. Jadi kita terus berganti fokus,” kata Downey.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU