Menurut dia, penggunaan beberapa AI sekaligus juga membuat banyak orang bekerja dengan beberapa jendela atau alat dalam waktu bersamaan. Inilah yang pada akhirnya memicu kelelahan mental.
Picu kesalahan dan niat resign
Peneliti juga menemukan bahwa pekerja yang mengalami brain fry lebih sering melakukan kesalahan dan mengalami decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan berkaitan dengan meningkatnya niat karyawan untuk keluar dari pekerjaan.
Studi tersebut mencatat bahwa niat untuk resign meningkat hampir 10 persen pada pekerja yang melaporkan mengalami brain fry.
Selain itu, kelelahan mental akibat penggunaan AI juga meningkatkan decision fatigue hingga 33 persen.
Jika terjadi dalam skala besar di perusahaan, kondisi ini berpotensi berdampak pada produktivitas dan bahkan kerugian finansial perusahaan.
Meski demikian, peneliti menekankan bahwa solusi dari masalah ini bukanlah meninggalkan atau menghentikan penggunaan AI.
Sebaliknya, perusahaan perlu mendesain ulang cara kerja dengan AI, bukan sekadar menambahkan AI ke dalam sistem kerja lama.
Potensi AI mungkin tidak terbatas. Pertanyaannya adalah seberapa jauh otak manusia dapat beradaptasi untuk mengimbanginya.
Jadi, menurut Bedard, pelatihan penggunaan AI yang tepat serta strategi manajemen yang jelas dapat membantu mengurangi risiko brain fry.[]
Sumber: Kompas.com







