Ini perihal inklusif komparasi. Meski dalam eskalasi antara suatu negara, dengan hanya institusi ekonomi, bahkan disandingkan tidak lebih dari sekadar suatu institusi organisasi: ketiganya berkelindan dinamis dibandingkan!
Dan ketika suatu nilai integritas, loyalitas dan moralitas itu tak ada, maka dari ketiganya negara sebagai institusi yang paling besar kekuasaannya serta berkekuatan hukum sekalipun akan mengalami kehancuran duluan.
Ini seperti telah terjadi di NKRI sepanjang satu dekade saat rezim Jokowi berkuasa. Legacy-nya NKRI hanya digerogoti korupsi berkelanjutan.
Bukan pembangunannya yang mayoritas bersumber dari hutang seluruh komponen pemerintah, korporasi negara maupun swasta yang semakin menumpuk saja bak menjadi infeksi bisul hingga 20.000 triliun.
Sedemikian bisul korupsi itu telah menjadi kanker kronis. Menjadikan era prioritas pembangunan mega-mega proyek infrastruktur itu percis dimakan bancakan bak makanan nutrisi bergizi tinggi bagi para koruptor.
Jalannya dilegalisasi persekongkolan antara istana dengan seluruh jala jejaring di semua lini lembaga-lembaga tinggi negara (DPR termasuk koalisi partai, MK, MA, Polri dan TNI) dengan para pengusaha pemburu rente (rent seeking) yang dikendalikan oleh oligarki korporasi.
Akibatnya pemerintahan rezim Jokowi yang seharusnya mengurusi negara untuk rakyat, dilupakan dan ditinggalkan. Isme aparatur pemerintah berkuasa menjadi kepentingan politik elitisme sepahaman dengan kekuasaan politik oligarki yang hanya menguntungkan segelintir orang:
Contoh, hanya untuk mengelola kebutuhan BBM untuk rakyatnya saja, tampak nyata dari harganya telah dikorupsi berlapis. Pertamax, RON 92, yang selevel diproduksi Petronas hanya seharga Rp7.865,- di Malaysia di negeri ini dijual Rp12.400,-. Itu pun Petronas masih untung mengkontribusi negara. Sebaliknya, di RI Pertamina masih harus disubsidi dengan memeras APBN pula.
Pertamina korporasi milik negara sebagai satu-satunya pengendali harga privilis bukannya tak mampu. Tetapi, sepertinya “dipaksa” untuk menyerah dan harus bertekuk lutut tergerus oleh mekanisme pasar high cost yang dikendalikan oleh para mafia raksasa oligarki BBM.
Yang ujung-ujungnya dari hulu ke hilir dikolusi berlapis antara penguasa-pengusaha hasilnya berlapis-lapis pula dikorupsi.
Ini masih di BBM murni. Lantas, kok teganya BBM yang dioplos juga dikorupsi. Itu korupsinya sudah tak berlapis lagi. Itu di luar lapisan nalar. Alias, korupsi menggila.
Boleh jadi probabilitasnya akan lebih menggila lagi di sektor-sektor lain yang lebih empuk dan pulen. Termasuk, pajak dari rakyat tanpa kecuali.







