Patah tapi Tak Tumbang

Berbicara hidup apa yang sering kali mematahkan semangat kita?

Rasanya tak lepas dari perasaan ingin menyerah, insecure, serta kecewa. Lain halnya jika kita berbicara Gaza maka kita akan berbicara tentang pengorbanan dan perjuangan.

Ada sebuah istilah popular yang seakan menggambarkan keteguhan bahwa warga Gaza adalah cermin dari patah yang sesungguhnya, tapi apakah mereka tumbang?

Kiranya kita perlu belajar dari mindset warga Gaza yang telah menjadi symbol keteguhan akidah dan pengorbanan terhadap dunia saat para penguasa sedang berebut menginginkannya.

Gaza mindset adalah pancaran dari mental yang dibangun karena iman. Betapa banyak kita menyaksikan dari kalangan muda hingga tua yang mengukuhkan keyakinan mereka bahwasanya hanya kepada Allah ketakutan mereka yaitu rendahnya musuh sebab mereka mengandalkan senjata-senjata mereka.

Musuh menganggap kematian adalah kelemahan warga Gaza padahal ialah bahan bakar kekuatan sebab janji Allah bagi sesiapa yang mati syahid.

 Sungguh keliru jika musuh menganggap ancaman, terror, dan pembunuhan dapat melumpuhkan mental warga Gaza, justru musuhlah yang lumpuh terkalahkan kokohnya mental serta keimanan penduduk Gaza.

Ada dua point krusial yang dapat kita pelajari dari Gaza mindset, yaitu:

Satu, Hidup adalah Ujian

Kita cenderungnya menganggap bahwa ujian adalah sebuah penderitaan. Namun, Gaza mindset membalik pola pikir yang demikian dengan menjadikan ujian adalah kenaikan level yang akan didapatkan disisi Allah.

Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Mereka menga sedih dan sangat berduka atas kehilangan anggota keluarga maupun kehilangan ketenangan hidup atas negerinya tapi mereka menyadari bahwa semua kepemilikan hanyalah milik Allah.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (TQS. Al-Baqarah ayat 156)

Keteguhan iman itu menjadi motivasi terbesar penduduk Gaza bahwa Allah telah menjadikan surga sebagai sebaik-baik tempat tanpa perpisahan dan ketidakadilan.

Dengan meyakini janji Allah bahwasanya pertolongan Allah itu sangatlah dekat bagi mereka.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS. al-Baqarah ayat 214).

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU