Kesepian di Tengah Keramaian: Mengurai Krisis Mental Generasi Sekuler

Oleh: Riza Herawati (Aktivis Muslimah)

Ada sebuah paradoks dalam kehidupan modern. Manusia semakin mudah berkomunikasi, memiliki banyak teman di media sosial, dan memperoleh informasi dengan cepat. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit anak muda yang justru merasa sendirian, kehilangan arah, dan tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk bertahan menghadapi beratnya kehidupan.

Awal September 2026 kembali menghadirkan alarm yang seharusnya tidak diabaikan. Pada Kamis, 10 September 2026, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri di lingkungan kampus. Polisi masih mendalami latar belakang peristiwa tersebut, sementara pihak universitas mengakui kejadian itu menjadi evaluasi penting terkait upaya pencegahan masalah kesehatan mental mahasiswa.

Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 6 September 2026. Polisi menyatakan kematiannya diduga berkaitan dengan tindakan bunuh diri. Sebelum wafat, FS diketahui meninggalkan pesan perpisahan dan mengunggah bukti donasi sekitar Rp40 juta kepada sejumlah komunitas sosial, termasuk yang bergerak di bidang kesehatan mental.

Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan ini tidak hanya muncul dalam dua kasus tersebut. Data layanan Healing119.id Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa pada periode 31 Juli 2025 hingga 31 Juli 2026, pengguna layanan didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Kemenkes juga menyebut keinginan mengakhiri hidup paling banyak muncul pada kelompok usia 11–30 tahun, dengan keluhan utama berkaitan dengan rasa kesepian.

Pertanyaannya: mengapa generasi yang hidup di tengah kemajuan teknologi dan konektivitas justru menghadapi persoalan kesepian dan keputusasaan?

Jangan Melihatnya Sekadar sebagai Masalah Individu

Ketika seseorang mengalami depresi, tekanan berat, atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, penanganan serius pada tingkat individu memang sangat krusial. Pendampingan psikologis, dukungan keluarga, layanan kesehatan mental, dan pertolongan profesional merupakan hal yang penting. Namun, jika fenomena tersebut terus muncul secara kolektif, kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang salah dengan orang tersebut?”, melainkan juga: “Masyarakat seperti apa yang sedang kita bangun?”

Manusia tidak hidup sendirian. Cara pandang terhadap kehidupan, ukuran keberhasilan, pola pendidikan, hubungan keluarga, lingkungan sosial, serta kondisi ekonomi memengaruhi cara seseorang menghadapi tekanan. Karena itu, krisis kesehatan mental tidak tepat jika selalu direduksi menjadi persoalan lemahnya mental individu semata.

Namun di sisi lain, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa semua kasus bunuh diri disebabkan oleh satu faktor tunggal. Setiap orang memiliki kondisi, pengalaman, dan persoalan yang berbeda. Oleh sebab itu, kritik terhadap sistem harus diarahkan pada lingkungan kehidupan yang memperbesar kerentanan tanpa mengabaikan kompleksitas penderitaan individu.

Ketika Sekularisme Memisahkan Agama dari Kehidupan

Di sinilah persoalan ideologis perlu dibahas. Dalam perspektif Islam, manusia bukan sekadar makhluk ekonomi yang bekerja, belajar, mengejar prestasi, lalu menikmati hasil materi. Manusia adalah hamba yang memiliki hubungan dengan Allah Swt. dan akan mempertanggungjawabkan kehidupannya di akhirat. Akidah memberikan jawaban mendasar atas pertanyaan: untuk apa manusia hidup?

Ketika agama diposisikan sebatas urusan ritual pribadi, sementara sektor pendidikan, ekonomi, sosial, dan kehidupan publik dibangun dengan ukuran yang sepenuhnya materialistis, manusia kehilangan perspektif transenden dalam menghadapi ujian kehidupan. Kesulitan akhirnya mudah dipandang sebagai kegagalan mutlak. Kehilangan pekerjaan dianggap sebagai akhir dari masa depan, kegagalan akademik dianggap kehancuran harga diri, dan tekanan ekonomi dianggap sebagai jalan buntu.

Padahal dalam Islam, kehidupan dunia tidak pernah dijanjikan sebagai medan yang bebas dari masalah. Allah Swt. berfirman:

«لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ»

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

Islam tidak menjanjikan manusia bebas dari masalah, melainkan memberikan panduan dalam memandangnya. Kesulitan adalah bagian dari ujian, kegagalan bukan berarti kehidupan tidak memiliki nilai, dan kemiskinan bukan berarti seseorang tidak berharga. Allah Swt. juga berfirman:

«لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا»

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU