Jakarta (Ngabarin.net)— Pemenuhan kebutuhan kalsium tubuh mendapat banyak perhatian karena mineral ini berperan penting bagi kesehatan tulang.
Di antara berbagai informasi yang beredar mengenai kalsium, terdapat beberapa mitos yang tidak berbasis bukti ilmiah. Sebagian mitos mungkin tampak tidak membahayakan, tetapi dapat mengarahkan masyarakat pada kebiasaan yang tidak berpengaruh terhadap kesehatan tulang.
Dalam publikasi EatingWell pada Rabu (30/9/2026), ahli gizi meluruskan empat mitos umum seputar kalsium.
1. Kalsium Hanya Berasal dari Susu dan Produk Turunannya
Susu dan produk turunannya memang kaya akan kalsium, tetapi bukan satu-satunya sumber mineral tersebut.
Ahli gizi terdaftar Tiffany Bruno mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan kalsium dapat dilakukan dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan, termasuk sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, tahu, serta makanan yang diperkaya kalsium seperti ikan sarden dan salmon kalengan.
2. Kalsium Saja Cukup untuk Membuat Tulang Kuat
Bruno menjelaskan bahwa kesehatan tulang tidak hanya bergantung pada asupan kalsium semata.
“Menjaga kesehatan tulang membutuhkan lebih dari sekadar kalsium. Vitamin D dan olahraga weight-bearing adalah dua faktor kunci dalam menjaga kesehatan tulang,” katanya.
Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium. Tubuh memproduksi vitamin D melalui paparan sinar matahari, serta dari makanan seperti ikan berlemak dan kuning telur.
Selain itu, nutrisi seperti vitamin K, magnesium, dan protein turut mendukung proses pembentukan tulang. Oleh karena itu, konsumsi makanan sumber kalsium dan vitamin D idealnya dipadukan dengan aktivitas fisik rutin.
3. Semakin Banyak Asupan Kalsium Berarti Tulang Semakin Kuat
Ahli gizi terdaftar Lakelyn Lumpkin menegaskan bahwa mengonsumsi makanan sumber kalsium dalam jumlah lebih banyak tidak secara otomatis membuat tulang menjadi lebih kuat.
Tubuh memiliki batas kemampuan dalam menyerap kalsium pada satu waktu. Berdasarkan penelitian, tubuh menyerap kalsium lebih efisien dalam dosis sekitar 500 miligram sekali konsumsi.
“Jadi, membagi konsumsi sumber kalsium ke dalam beberapa waktu makan dan camilan bisa lebih bermanfaat daripada berusaha memenuhinya hanya saat makan malam atau mengandalkan suplemen dosis tinggi di penghujung hari,” kata dietisien terdaftar Lily McNair.
Konsumsi kalsium berlebihan secara terus-menerus juga dikaitkan dengan efek samping seperti sembelit dan batu ginjal pada sebagian orang.
4. Semua Suplemen Kalsium Sama
McNair menjelaskan bahwa suplemen kalsium tersedia dalam beberapa bentuk sediaan, antara lain karbonat, sitrat, fosfat, laktat, dan glukonat. Kandungan serta profil penyerapan pada tiap jenis suplemen tersebut berbeda.
Sebagai gambaran, kalsium karbonat mengandung kalsium elemental lebih tinggi dan harganya relatif terjangkau, namun penyerapannya paling optimal jika dikonsumsi bersama makanan.
Sementara itu, kalsium sitrat umumnya lebih ramah bagi lambung serta dapat dikonsumsi baik sebelum maupun sesudah makan. Sediaan ini sering direkomendasikan bagi individu dengan kadar asam lambung rendah atau pengguna obat penurun asam lambung.
“Ini penting untuk diperhatikan. Jadi, periksa labelnya alih-alih berasumsi bahwa setiap suplemen kalsium bekerja dengan cara yang sama,” ujar McNair.[]
Sumber: Antara







