Bukan Sekadar Hobi, Baca Buku Terbukti Redakan Stres dan Perlambat Penuaan Otak

Jakarta (Ngabarin.net) — Sebuah studi yang dikerjakan oleh para ilmuwan dari Universitas Cambridge dan The Queen’s Reading Room mengungkap sejumlah manfaat membaca bagi kemampuan kognitif otak pada masa mendatang.

Temuan itu diterbitkan sebagai editorial di jurnal Psychological Medicine, sebagaimana dilansir Eating Well pada Minggu (27/9/2026). Para penulis meninjau dan mensintesis temuan dari puluhan studi yang telah dipublikasikan sebelumnya, alih-alih mengumpulkan data baru secara mandiri.

Pendekatan ini memungkinkan para peneliti melihat pola dari berbagai jenis bukti, mulai dari survei mandiri, pemindaian otak, hingga studi kesehatan selama beberapa dekade terakhir.

Bukti Riset dan Penurunan Risiko Demensia

Bukti yang digunakan mencakup beberapa kategori riset. Penelitian survei terhadap lebih dari 4.000 orang dewasa dan survei lain kepada 2.000 peserta program membaca bersama merekam pengakuan responden tentang bagaimana membaca meredakan stres, memperbaiki suasana hati, serta mempererat hubungan sosial.

Studi kohort longitudinal melacak kelompok lansia selama lebih dari satu dekade. Riset ini membandingkan kebiasaan membaca para responden dengan risiko penurunan kognitif atau demensia yang mereka alami.

Sementara itu, studi pencitraan saraf (neuroimaging) menggunakan MRI dan fMRI untuk mengamati perbedaan fisik pada otak orang yang sering membaca dibandingkan dengan yang jarang membaca.

Temuan paling jelas diperoleh dari pengamatan terhadap orang dewasa selama bertahun-tahun. Dalam studi terhadap lebih dari 5.400 orang dewasa sehat berusia 55 tahun ke atas, mereka yang rajin membaca cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami gangguan kognitif selama lima tahun pemantauan.

Penelitian serupa pada kelompok berusia 65 tahun ke atas menemukan bahwa pembaca aktif memiliki risiko terkena penyakit Alzheimer yang lebih rendah selama empat setengah tahun.

Studi lain pada lansia berusia 75 tahun ke atas mencatat penurunan risiko demensia sebesar 35 persen di antara pembaca aktif selama lima tahun pemantauan. Secara khusus, studi tersebut mencatat hanya 4 dari 20 pembaca aktif yang mengalami demensia, berbanding 9 dari 20 orang pada kelompok yang jarang membaca.

Menahan Penurunan Kognitif dan Meredakan Stres

Manfaat membaca juga berlaku tanpa memandang tingkat pendidikan. Dalam studi selama 14 tahun terhadap hampir 2.000 lansia berusia di atas 64 tahun, orang yang membaca setidaknya sepekan sekali menunjukkan laju penurunan kognitif yang lebih lambat, terlepas dari latar belakang pendidikan formal mereka.

Para peneliti menilai kebiasaan membaca berpotensi mengimbangi keterbatasan kognitif yang kerap dikaitkan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah.

Orang dewasa yang membaca secara teratur juga melaporkan tingkat stres yang lebih rendah. Dalam sebuah jajak pendapat, membaca selama enam menit saja terbukti mampu menurunkan tingkat stres, dan mayoritas responden memilih membaca buku untuk mencari ketenangan ketimbang mengonsumsi minuman keras (wine) atau berendam air hangat.

Hampir tiga perempat peserta survei program membaca terpisah menyatakan bahwa membaca berdampak positif pada kesehatan mental dan kesejahteraan hidup mereka secara keseluruhan. Selain itu, lebih dari 40 persen responden merasa tidak terlalu kesepian berkat kebiasaan membaca.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU