“Ketika seseorang mulai merasa kehilangan semangat, mudah lelah secara emosional, dan tidak lagi menemukan makna dalam pekerjaannya, itu bukan sekadar capek biasa, melainkan sinyal awal burnout yang tidak boleh diabaikan,” kata Kasandra memperingatkan.
Menurut Kasandra, akumulasi kelelahan fisik akibat menjalani dua pekerjaan sekaligus memaksa tubuh berada dalam kondisi stres berkepanjangan.
Ketika waktu istirahat terus berkurang, sistem saraf tidak memiliki kesempatan untuk pulih, sehingga hormon stres seperti kortisol tetap tinggi.
Kondisi tingginya kortisol ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan psikologis.
Paparan stres kronis dapat mengganggu keseimbangan biologis tubuh dan berdampak langsung pada fungsi otak yang mengatur emosi.
Akibatnya, individu menjadi lebih mudah cemas, tegang, dan sulit merasa aman secara psikologis.
Selain itu, kelelahan kronis juga meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan menurunkan suasana hati secara konsisten.
Kurang tidur dan beban kerja yang berlebihan membuat individu lebih rentan mengalami pikiran negatif hingga kehilangan tenaga sama sekali.
“Jika kondisi ini tidak diintervensi, kelelahan fisik yang awalnya tampak ‘biasa’ dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan atau depresi dalam jangka panjang,” ujar Kasandra menegaskan risikonya.[]







