Kelima: Mengajak umat Islam menjadikan Idulfitri sebagai momentum untuk mempererat silaturrahim, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat. Rasulullah saw bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR Bukhari dan Muslim).
Silaturrahim merupakan fondasi penting dalam memperkuat persatuan umat dan harmoni sosial
Keenam: Mengingatkan umat Islam agar merayakan Idulfitri dengan penuh rasa syukur, kesederhanaan, serta menghindari perilaku berlebih-lebihan (israf) dalam konsumsi maupun perayaan. Allah Swt berfirman:
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raf: 31)
Semangat Idulfitri hendaknya diwujudkan dengan meningkatkan kepedulian kepada fakir miskin, anak yatim, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks ini mengingatkan kembali Fatwa MUI Nomor 83 tahun 2023 yang berbunyi: “Umat Islam diimbau untuk memaksimalkan menghindari konsumsi dan penggunaan produk-produk Israel dan pihak-pihak yang mendukung agresi Israel ke Palestina”.
Ketujuh: Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kohesi sosial dan persatuan bangsa; yaitu dengan menjaga kerukunan, memperkuat ukhuwah, serta memelihara persatuan bangsa sebagai amanah bersama. Allah Swt berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10)
Rasulullah saw bersabda:
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan memperkuat kohesi sosial, masyarakat akan memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.







