Tagar #KaburAjaDulu yang viral di media sosial, terutama di X (Twitter), mencerminkan kegelisahan generasi muda terhadap kondisi ekonomi yang semakin sulit. Banyak anak muda merasa bahwa masa depan mereka lebih menjanjikan di luar negeri, baik melalui beasiswa pendidikan maupun peluang kerja.
Menurut laporan Indonesia Expat (8 Februari 2025), banyak anak muda yang memanfaatkan tagar ini untuk berbagi informasi tentang beasiswa dan lowongan kerja di luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan untuk meninggalkan Indonesia bukan hanya karena tren semata, tetapi sebagai respons terhadap realitas pahit di dalam negeri. (Indonesia Expat, 08/02/2025)
Sementara itu, Tirto.id mencatat bahwa rendahnya penghargaan terhadap talenta lokal, upah yang tidak layak, serta biaya hidup yang semakin tinggi membuat banyak orang memilih bekerja di luar negeri. Fenomena ini dikenal sebagai brain drain, di mana tenaga kerja terampil lebih memilih menetap di negara maju yang menawarkan gaji lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih baik. (Tirto.id, 07/02/2025)
Lebih lanjut, CNN Indonesia melaporkan bahwa banyak anak muda kecewa dengan kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada investor dan pemodal, sementara rakyat kecil terus terpinggirkan. Pembangunan infrastruktur masif tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan yang nyata. (CNN Indonesia, 06/02/2025)
Lantas, mengapa negara ini terus gagal memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya?
Kapitalisme: Akar Masalah Kesenjangan dan Ketimpangan
Fenomena #KaburAjaDulu bukanlah sekadar masalah individu yang ingin mencari kehidupan lebih baik. Ini adalah bukti nyata bahwa sistem kapitalisme telah gagal memberikan kesejahteraan yang adil bagi rakyatnya.
Dalam sistem kapitalisme, negara lebih berfungsi sebagai fasilitator bagi pemilik modal, bukan sebagai pengurus rakyat. Pemerintah lebih fokus menarik investasi asing, sementara kesejahteraan rakyat hanya menjadi janji kosong.
Banyak kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan korporasi, seperti undang-undang ketenagakerjaan yang merugikan buruh dan UU Cipta Kerja yang mempermudah eksploitasi tenaga kerja. Hal ini menyebabkan upah rendah, PHK massal, dan ketidakpastian kerja yang semakin memperburuk nasib pekerja.
Perekonomian dalam kapitalisme didasarkan pada liberalisasi, yang membuka peluang bagi tenaga kerja untuk berpindah ke negara yang lebih menjanjikan. Alih-alih menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat, negara berkembang justru menjadi pemasok tenaga kerja murah bagi negara maju.
Akibatnya, anak muda yang berbakat lebih memilih pergi ke luar negeri karena merasa tidak ada ruang bagi mereka untuk berkembang di dalam negeri. Mereka disambut dengan berbagai tawaran menarik, sementara pemerintah sendiri tidak memiliki kebijakan konkret untuk mempertahankan mereka.
Kapitalisme menciptakan kesenjangan ekonomi yang sangat tajam. Kekayaan hanya berputar di tangan segelintir elite, sementara mayoritas rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Sumber daya alam yang melimpah seharusnya bisa digunakan untuk menyejahterakan rakyat, tetapi justru dikuasai oleh korporasi asing dan swasta. Akibatnya, rakyat hanya menjadi penonton dari kekayaan yang seharusnya mereka nikmati.
Pendidikan dalam kapitalisme bukanlah hak, tetapi bisnis. Biaya pendidikan yang mahal memaksa banyak orang mencari beasiswa ke luar negeri. Sayangnya, setelah menyelesaikan studi, banyak dari mereka yang enggan kembali ke Indonesia karena tidak ada lapangan kerja yang memadai.







