Kemenangan ‘Genuine’ Anies di Pilpres 2024

Bahkan, dengan cara membalak, memampas dan mengintimidasi serta menyandera institusi pembentuk demokrasi Trias Politika dan hak-hak demokrasi rakyat.

Pun Anies mendapat dukungan dari komunitas religiusitas Islam populis moderat. Terutama, dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan grassroot, serta gerakan garis lurus NU memunculkan kebaharuan yang mencirikan gerakan politik perubahan itu.

Secara praktikal politik —menurut data catatan hasil riset tentang dinamika pergolakan gerakan politik demokrasi modern di pelbagai belahan negara di dunia—sekalipun berjumlah lebih sedikit, kebanyakan komunitas masyarakat menengah yang mempelopori gerakan perubahan itu yang kemudian tumbuh dan berkembang selalu memenangkan pesta demokrasi, seperti seharusnya Anies memenangkannya pada Pilpres 2024 lalu.

Tetapi, kondisi yang terjadi ini rupanya mengecualikan bagi negara Indonesia. Anies yang mengendarai koalisi tiga partai perubahan PKS, PKB dan Nasdem, hingga disebut partai pejuang The Three Musketeers Party dihadang oleh kekuatan politik apa yang disebut di sini sebagai: politik kuadran kecurangan dan kelicikan TSM.

Kekuatan politik kuadran (politik empat kotak) yang memang tampaknya sengaja telah di-setting itu menyasar —sebagai hazard pengelabuan data angka populasi BPS—- adanya jumlah signifikan penurunan kelas menengah, bertambahnya masyarakat bawah dan terbawah di desa-desa, serta masyarakat miskin di kota-kota yang diestimasi 140 juta populasi diakumulasi dengan pendukungnya partai koalisi oligarki KIM menjadi angka target 58% itu tercapai, melalui:

Kotak pertama, kolusi keterlibatan perangkat ASN, kepala desa, Polri dan TNI di level desa-desa; kotak kedua, bansos politik gentong babi; kotak ketiga, rekayasa Sirekap KPU dan Bawaslu; serta kotak keempat menebar amplop money politic serangan fajar sokongan oligarki.

Jadi, kemenangan murni Anies itu telah dirampok oleh dua kroni antara persekongkolan kekuatan kekuasaan oligarki dan politik dinasti.

Itulah yang menjadi dasar OCCRP menilai nominasi final bagi Jokowi sebagai Presiden terkorup ketiga di dunia terpenuhi.

Soalnya, dengan membunuh demokrasi —sebagaimana perhelatan di Pilpres 2024 yang penuh dibelepoti dan dilumuri kecurangan dan kelicikan TSM —-OCCRP akan mudah mendapatkan pemenuhan persyaratan itu sebagai dasar penilaiannya: ada cara kejahatan terorganisir TSM, motifnya korupsi.

Tetapi itu ya sudahlah “kemenangan semu” itu sudah menjadi keputusan mengikat, final and binding . Itu kata MK, pecundang lain demokrasi kerabat kroni terdekat dinasti politik Jokowi melakukan drakor politik saat itu.

Sekarang bagi Anies kemenangan genuine itu pasti akan tersimpan sebagai pesan dan kesan berarti yang takkan pernah pudar tetap melekat di hati sanubari dan genggaman tangan para pelanjut pejuang pergerakan perubahan Indonesia nanti.

Sekarang Anies sedang diam. Diam itu emas. Sebab bilamana kemenangan itu telah dimunajatkan dan dinurbuatkan oleh Allah SWT takkan lari kemana.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU