Karanganyar (Ngabarin) – Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022, Anies Baswedan, meresmikan jembatan gantung “Titian Persatuan” di Karanganyar, Jawa Tengah, pada Jumat, 30 Januari 2026.
Jembatan sepanjang sekitar 55 meter itu menghubungkan Desa Sambirejo, Kecamatan Jumantono dan Kampung Klotok, Kelurahan Bolong, Kabupaten Karanganyar.
Anies mengatakan, jembatan gantung ini dibangun melalui inisiatif relawan Aksi Bersama dengan semangat gotong royong penuh dari warga setempat. Pendanaan jembatan ini merupakan hasil kolaborasi antara sejumlah pihak, seperti Aksi Bersama dan berbagai donatur yang menyumbangkan dana melalui platform KitaBisa.
Aksi Bersama adalah organisasi yang diinisiasi Anies Baswedan untuk menciptakan masyarakat yang inklusif, adil, dan berdaya.
Peresmian diwarnai dengan pemotongan tumpeng, pembacaan naskah prasasti, serta pengibaran bendera merah putih yang dipimpin langsung oleh Anies Baswedan.

Anies mengungkapkan kekagumannya atas kekompakan warga yang bekerja keras membangun jembatan di atas Sungai Gembong tersebut. Menurutnya, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan simbol persatuan yang memutus keterisolasian wilayah perbatasan desa.
“Jembatan ini bukan dibangun oleh orang luar, tapi dibangun oleh keringat dan kerja keras warga sini. Kami dari Aksi Bersama ibarat datang ke tempat yang subur dengan membawa bibit. Bibit itu tumbuh karena warga memiliki semangat gotong royong yang luar biasa,” ungkap Anies Baswedan saat menyampaikan sambutan.
Ia menambahkan, sungai di Indonesia sering kali menjadi batas wilayah yang sulit terjangkau anggaran pemerintah secara efektif karena letaknya di perbatasan desa, kecamatan, hingga kabupaten.
Aksi Bersama hadir untuk mengisi ruang tersebut guna membantu mobilitas warga dan anak sekolah yang selama puluhan tahun menghadapi keterbatasan akses.
“Jembatan ini menghubungkan antara ketertinggalan dengan kemajuan. Dari harapan yang dulu jauh dijangkau menjadi mudah dijangkau. Insyaallah anak-anak kita nanti kalau sekolah bisa berangkat dan pulang dengan tenang, orang tuanya pun nyaman karena rasa aman terjaga,” ujarnya.
Lurah Desa Bolong, Aziz Purwanto, menjelaskan sebelum jembatan gantung permanen ini berdiri, warga hanya mengandalkan jembatan “sasak” atau jembatan bambu tradisional selama puluhan tahun. Kondisi jembatan lama setinggi 30 meter dari permukaan air ini, sering kali membuat warga was-was saat melintas.

“Memang sudah berpuluh-puluh tahun warga selalu intens membenahi sasak yang rusak. Akhirnya tahun 2025 lalu ada yang mengunggah fotonya di media sosial dan ditangkap oleh tim Aksi Bersama. Proses pembangunan ini benar-benar bahu-membahu antara warga Bolong dan Sambirejo,” kata Aziz.
Kini, lanjut Lurah Bolong, jembatan tersebut sudah dapat dilalui kendaraan roda dua secara bergantian. Aziz menyebut kehadiran jembatan permanen ini sangat membantu akses warga menuju pusat kota Karanganyar yang kini menjadi lebih dekat dan cepat tanpa harus khawatir risiko keselamatan.
“Ya merasakan terbantu, karena akses ke kota juga lebih dekat, lebih cepat. Dan dulu memang was-was kalau nyebrang ini. Sekarang Ini bisa dilewati kendaraan roda dua. Banyak warga yang kesini, jadi kaya destinasi wisata baru malah,” kata dia. []
sumber: RRI







