Kentut Berbau Menyengat, Sinyal Tersembunyi Gangguan Sistem Pencernaan

Jakarta (Ngabarin.net) — Buang angin atau kentut sesekali menandakan sistem pencernaan sehat dan berfungsi dengan baik. Namun, kentut yang terjadi terus-menerus atau berbau menyengat bisa mengindikasikan adanya gangguan kesehatan pencernaan.

“Umumnya kentut yang tidak berbau merupakan bagian normal dari proses pencernaan,” kata dokter ahli gastroenterologi dan hepatologi, Rucha Shah, sebagaimana dikutip dalam siaran Eating Well pada Ahad (23/8/2026).

Menurut ahli kesehatan pencernaan, pengeluaran gas secara berlebihan atau berbau tidak sedap bisa mengindikasikan adanya masalah medis. Kondisi ini memerlukan perhatian khusus jika terjadi dalam jangka panjang.

Ahli diet, Sarah Glinski, menjelaskan bahwa kondisi yang menghambat kemampuan tubuh memecah makanan atau menyerap nutrisi dapat memicu produksi gas berlebih. Hal ini terjadi karena komponen makanan yang tidak tercerna akan mengalami fermentasi oleh bakteri di dalam usus besar.

“Karena komponen makanan yang tidak tercerna sering kali difermentasi oleh bakteri di dalam usus besar,” katanya.

Proses fermentasi ini dapat menyebabkan timbulnya gas berbau menyengat, perut kembung, serta rasa tidak nyaman pada organ perut.

Dokter spesialis gastroenterologi, Supriya Rao, menyampaikan bahwa masalah absorbsi karbohidrat tertentu juga memicu terbentuknya gas berlebih. Bakteri akan memfermentasi karbohidrat yang tidak tercerna ketika mencapai usus besar.

Dokter spesialis gastroenterologi, Latha Alaparthi, menambahkan bahwa bahan makanan yang sulit dicerna seperti gula alkohol dan pemanis buatan dapat memicu fermentasi di usus. Hal ini meningkatkan produksi gas bagi sebagian orang.

Fungsi pencernaan juga bisa terganggu akibat ketidakseimbangan mikrobioma di dalam usus atau disbiosis. Kondisi ini terjadi ketika jumlah mikroba baik berkurang sehingga mikroba berbahaya berkembang biak secara berlebihan.

“Ketidakseimbangan ini dapat memicu penguraian protein yang tidak tercerna di usus besar, yang menghasilkan senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida,” kata Glinski.

Ahli gizi, Ashley Oswald, menyampaikan bahwa disbiosis dapat menyebabkan peningkatan produksi gas dan bau kentut yang lebih menyengat. Disbiosis dapat dipicu oleh penggunaan antibiotik, pola makan rendah serat, stres kronis, hingga peradangan usus.

Gangguan lain yang dapat menyebabkan produksi gas berlebih adalah small intestinal bacterial overgrowth (SIBO), yaitu pertumbuhan bakteri secara berlebihan di usus kecil. Oswald menyebut gejala SIBO sering ditandai dengan kembung kronis sekitar 30 menit hingga tiga jam setelah makan.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU