Jakarta (Ngabarin.net)– Sejumlah aktivis pro-Palestina membongkar kekejaman dan perlakuan tidak manusiawi yang mereka alami selama berada di dalam tahanan militer Israel.
Para relawan kemanusiaan tersebut dideportasi secara sepihak setelah kapal flotilla yang mereka tumpangi menuju Gaza dicegat paksa oleh pasukan zionis di perairan internasional.
Pemerintah Kanada menyatakan telah menerima laporan rinci mengenai perlakuan mengerikan yang menimpa warga negaranya di tangan militer Israel.
Pemerintah Jerman dan Spanyol juga mengonfirmasi bahwa sejumlah warga negara mereka mengalami cedera serius akibat kekerasan tersebut.
Pihak penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 membeberkan adanya sedikitnya 15 kasus kekerasan seksual serta berbagai tindakan keji lainnya yang dilakukan oleh aparat zionis.
Laporan mengenai kejahatan kemanusiaan ini pertama kali disiarkan oleh media Inggris, BBC.
Di sisi lain, otoritas penjara Israel berdalih dan menolak semua tuduhan tersebut dengan mengklaim bahwa seluruh tahanan diperlakukan sesuai hukum.
Pihak militer zionis pun bungkam dan belum memberikan komentar resmi saat dimintai klarifikasi terkait skandal ini.
Kekejaman Berkedok Penahanan
Penyelenggara Global Sumud Flotilla 2.0 merilis pernyataan resmi pada Jumat (22/05) mengenai kebiadaban militer Israel terhadap para relawan kemanusiaan.
“Setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan. Ada yang ditembak dengan peluru karet dari jarak dekat. Puluhan orang mengalami patah tulang.”
Kesaksian mengerikan ini juga diungkapkan langsung oleh para aktivis setibanya mereka di negara asal pascadeportasi.
Saat tiba di Paris pada Jumat (22/05), aktivis asal Prancis, Meriem Hadjal, bersaksi kepada media bahwa dirinya menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual.
Dia menambahkan: “Saya dipukul, ditampar, disentuh, ditendang di tulang rusuk, rambut saya dijambak. Saya mengalami trauma selama berjam-jam.”
Dua warga negara Italia yang dideportasi pada Kamis (21/05), yakni jurnalis Il Fatto Quotidiano Alessandro Mantovani dan anggota parlemen Dario Carotenuto, turut membeberkan kebrutalan zionis.
Mantovani mengungkapkan bahwa dirinya dipukuli habis-habisan oleh pasukan Israel di sebuah fasilitas penahanan terisolasi yang terbuat dari kontainer besi.
Aktivis asal Inggris, Richard Johan Anderson, juga membongkar sistematisasi penyiksaan tersebut saat mendarat di bandara Istanbul.
Di bandara Istanbul, aktivis UK, Richard Johan Anderson, mengatakan kepada wartawan: “Kami dipukuli, disiksa, secara sistematis diperlakukan tidak manusiawi, dan… kami baru saja merasakan sedikit dari apa yang dialami rakyat Palestina setiap hari.”
Adalah, sebuah lembaga hak asasi manusia independen di Israel yang mendampingi para tahanan, membenarkan terjadinya cedera parah yang meluas di kalangan relawan.
Tim pengacara dari lembaga tersebut menerima ratusan keluhan mengenai kekerasan ekstrem setelah berdialog langsung dengan para aktivis di Pelabuhan Ashdod.







