Kesehatan mental remaja saat ini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey, sekitar 15,5 juta remaja atau 34,9% dari jumlah total remaja mengalami gangguan kesehatan mental (dikutip dari www.tempo.co).
Kondisi ini diperburuk dengan meningkatnya kasus bunuh diri, self-harm, dan gangguan emosional lainnya. Jika tidak segera ditangani, fenomena ini dapat menjadi penghambat besar dalam mewujudkan generasi emas 2045 yang diharapkan memiliki kualitas unggul dalam berbagai aspek kehidupan.
Salah satu penyebab utama menurunnya kesehatan mental remaja adalah sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini. Pendidikan sekuler yang menitikberatkan aspek akademik tanpa landasan moral yang kuat telah melahirkan generasi dengan pemikiran liberal yang bebas tanpa batas.
Selain itu, tekanan hidup yang berorientasi pada materi membuat remaja terpaksa berfokus pada pencarian uang untuk memenuhi kebutuhan, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan dan gaji yang layak masih jauh dari cukup. Ketimpangan ini memicu stres, kecemasan, serta rasa putus asa di kalangan remaja.
Media sosial turut memperparah kondisi kesehatan mental remaja. Dengan 88,99% anak usia 15 tahun ke atas yang sudah mengakses internet, mereka makin rentan terhadap dampak negatif dunia digital, seperti cyberbullying, kecanduan konten tidak bermanfaat, dan tekanan sosial dari standar hidup yang tidak realistis.
Remaja yang awalnya merasa baik-baik saja dapat dengan mudah mengalami overthinking akibat paparan konten yang memperkeruh suasana hati mereka. Sayangnya, tanpa adanya kontrol yang tepat, media sosial justru menjadi faktor utama yang mempercepat degradasi kesehatan mental remaja.
Islam menawarkan solusi komprehensif untuk mengatasi krisis ini dengan menerapkan sistem kehidupan berbasis syariat.
Dalam Islam, remaja tidak hanya difokuskan pada aspek duniawi, tetapi juga dibekali pemahaman bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu beribadah kepada Allah. Dengan landasan akidah Islam, remaja tidak mudah goyah oleh tekanan hidup dan dapat membangun mental yang lebih kuat.
Negara dalam sistem Islam juga memiliki peran krusial dalam menciptakan generasi yang sehat secara mental dan intelektual. Pemerintah bertanggung jawab memastikan akses pendidikan yang berkualitas berbasis akidah, menyediakan lapangan kerja yang mencukupi, serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat agar kesejahteraan individu tidak hanya bergantung pada materi.
Selain itu, orang tua dan masyarakat turut berperan aktif dalam mendidik serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja.
Dengan penerapan kebijakan yang mendukung kesejahteraan remaja, tekanan hidup yang berlebihan dapat diminimalisir. Negara yang menjalankan sistem Islam akan menjamin kebutuhan dasar masyarakat sehingga materi bukan lagi menjadi fokus utama yang menekan mental remaja.
Selain itu, kebijakan-kebijakan yang diambil tidak bersifat blunder, melainkan benar-benar dirancang untuk melindungi remaja dari ancaman yang dapat merusak kesehatan mental mereka.
Dengan demikian, generasi emas 2045 yang dicita-citakan masih dapat diwujudkan jika sistem kehidupan berbasis Islam diterapkan secara menyeluruh. []
Ni’matul Yumna Nur Aliyah, Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).







