Negeri Oplosan

Seolah demokrasi semuanya hanya diatur semaunya oleh segelintir elit politik. Partai hanya dikuasai oleh Ketum, DPR dikuasai koaliasi oligarki partai;

Karena “demokrasi oligarki” itu juga bisa ditransaksionalkan, maka oligarki itu mencetak kejahatan kolusi dan konspirasi rent seeking kepada rezim penguasa yang asli bukan kaleng-kaleng memang oplosan pula.

Lantas, aspirasi murni rakyat larinya pada kemana? Ke laut? Ke belantara hutan ke tempat jin buang anak?

Mendingan begitu daripada larinya ke otak dengkul para pejabat korup negara itu. Tidak saja menjadi tolol alias bahlul. Bahayanya menjadi bajingan. Bajingan tolol atau tolol bajingan sama saja.

Seperti pejabat korporasi Pertamina Patra melakukan kejahatan mengoplos pertalite menjadi pertamax. Atau memilih Prabowo di Pilpres 2024 lalu ternyata sama saja karena Prabowo itu oplosan Jokowi. Jadilah, viral di medsos oleh netizen Prabowo-Jokowi disebut rezim oplosan.

Kedua produk oplosannya sama saja disebut kejahatan maha sama besar bisa “membangkrutkan” dan “membubarkan” NKRI.

Yang satu, bukan hanya menimbulkan kerugian hingga nyaris mencapai satu kuadran trilyun bagi negara. Melainkan, sudah membuat rakyat sangat frustasi merasa “dibohongi” dan
“terbohongi” oleh pejabat negara itu tak kan terbayar dan ternilai — karena menyangkut institusi monumental trustment — dengan berapa pun ribuan kuadran trilyun sekalipun.

Lantas, apa kepantasan yang sanggup membayarnya, adalah seharusnya adanya rasa kesadaran dan kemaluan diri seluruh pejabat pimpinan Pertamina itu, dua menteri BUMN dan MSDM beserta Presiden dan Wakilnya mengundurkan diri.

Tetapi, apa lacung dan lacur mana ada di negeri oplosan begitu. Negeri dengan segala tata etika dan moralitas serta hukum perundang-undangannya pun oplosan! Segala bisa dioplos diperlicinkan dengan uang, seperti lagi milik group band Sukatani; Bayar Bayar Bayar Polisi! Jaksa! Hakim! KPK!

Yang kedua, itu menyangkut kedaulatan rakyat sama halnya Prabowo mengangkangi dan menganeksasi rakyat. Justru, dengan cara melindungi Jokowi yang sedang menjadi public enemy terbesar rakyat. Ini bisa mengakibatkan terjadi polarisasi dan disintegrasi bangsa yang memicu dan memacu NKRI bubar.

Seperti yang dituliskannya oleh Prabowo dalam Paradoks Indonesia tentu dengan kesadaran intelektualitas sendiri.

Tetapi, apakah kesadaran intelektualitas Prabowo sendiri, adalah produk oplosan karena sudah terbiaskan dan terpudarkan oleh ambisi tahta Presidennya yang sudah hattrick mengalami kekalahan? Lantas, jadi tak peduli bagaimana cara memenangkannya?

Sebaliknya, justru berbeda dengan Jokowi menjabat dua kali Presiden hanya dengan intelektualitas oplosan alias ijazah palsu? Dan hanya jualan kebohongan-kebohongan?

Itulah NKRI negeri oplosan!! Huaaa…. Huaaa…Negeri gemoy geboy! Huaaa… Huaaa Hidup Negeri Oplosan! Hidup Kebohongan! Hidup Omon-Omon! Wallahu a’lam Bisshawab.[]

Babakan Mustikasari-Bekasi, 2 Maret 2025

Dairy Sudarman, Jurnalis politik Pemred VT Media Center Indonesia+, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU