Apa sih yang tidak ada oplosan di negeri ini? Bensin, minyak goreng, kosmetik, obat-obatan minuman, gas, oli, beras, gula, pupuk, dlsb pernah dan tak lepas dari modus operandi kriminal produk oplosan.
Itu produk real di banyak kebutuhan rakyat di seluruh strata. Tidak kaya tidak miskin. Tanpa disadari dan dirasakan semua kebagian produk oplosan.
Keniscayaannya sesungguhnya sudah pasti produk oplosan itu seluruhnya mengakibatkan merusak sendi-sendi perikehidupan bangsa ini:
Daya gerak mobilisasi dan kecerdasan melambat dan melemah; gizi dan kesehatan melorot dan ambruk; bahkan regenerasi bibit unggul tanaman dan hewan untuk kesinambungan ketersediaan pangan rendah kualitasnya dan terkontaminasi racun.
Dalam konteks yang lebih besar produk oplosan itu mampu akan merusak sistem ekologi lingkungan yang amat mengerikan sekaligus memalukan.
Kerap dampaknya akan banyak dikecam dan dihujat oleh banyak negara yang sadar akal dan sadar alam serta sadar keaslian, kemurnian bukan sesuatu yang KW-KW atau palsu.
Karena sesungguhnya produk oplosan itu sampah, suatu rubbish produk penyelewengan dan penyimpangan jahat yang sudah seharusnya dibuang dan terbuang.
Bahkan, untuk menilai suatu kemajuan negara, boleh jadi parameteter ilmiah terbarunya nanti bagaimana menilai tingkat kualitas negara itu dengan tanpa adanya produk oplosan.
Karena oplosan itu hanya faktor kuantitas, semakin banyak terjadi semakin merusak dan menghancurkan —-bentuknya berupa serangan merusak terhadap entitas maupun densitas —-muara akhirnya ditandai oleh tetap dan permanen berkepanjangan tingginya tingkat keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan rakyatnya menjadi jurang dalam disparitas dari suatu negara.
Lebih berbahayanya dari segi budaya sudah menjadi sikap dan perilaku kebiasaan buruk masyarakatnya (bad habbit). Boleh jadi negeri ini akan menjadi “Oplosan Culture State.
Maka, dalam aspek politik, demokrasi di negeri ini juga disebut “demokrasi oplosan”. Demokrasi ideal murni, konstitusi hukumnya adalah Pancasila dan UUD 1945.
Tetapi, demokrasi oplosan sekarang, adalah yang paling up date sebagai petualang petantang-petenteng antara pejabat negara yang korup dengan korporasi oligarki ekonomi keduanya bersimbiosis menjelmakan “demokrasi oligarki”.







