‘Raja-Raja Kecil’

Memikul di pundaknya “gentong babi” berisi bansos yang tak tahunya itu menjadi strategi politik pemenangan Pilpres bagi sang rezim—hiprokitisme pahala sedekah bagi orang kecil yang jadi haram karena mengesampingkan dan menyingkirkan perintah Tuhan daripada “Tuannya”.

Dan lihatlah efeknya setelah itu nyaris di pantai utara Tangerang Banten dan Teluk Utara Jakarta hingga Rempang, aparat Kepala Desa menjadi “Raja-Raja Kecil” yang sangat berkuasa mengintimidasi, menyabot, menyerobot, memampas dan merampas tanah-tanah orang-orang kecil dan nelayan miskin yang menjadi warganya.

Tetapi, mau-maunya menjadi jongos Aguan Bos PT. Agung Sedayu yang keji dan kejam serta rakus dan serakah demi ambisi hanya untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui pengusahaan bisnis propertinya—kecuali hipokritisme materialis demi harta, tahta dan wanita.0

Bahkan, ini dikuatirkan para Kepala Desa dan perangkatnya itu apa lacung dan lacur bakal dijadikan jalan bagi jaringan “tata niaga baru” para pemburu rente via mafia-mafioso menghegemoni hasil-hasil pertanian dan perkebunan yang memaksa dan dipaksa dibeli murah.

Dan sebaliknya akan dibarter secara rente dengan produk bahan-bahan pertanian dan perkebunan yang pada musim tanam berikutnya dihadapkan penuh resiko gagal panen.

Kemudian dikesankan kelangkaan ketersediaannya harga pupuk dan bibit tanamannya terus melonjak semakin mahal.

Sehingga, siklus kemiskinan ini bagi petani dan buruhnya sudah terkunci abadi. Itulah kenapa suatu harapan kesejahteraan bagi mereka itu hanya selalu menjadi lamunan dan impian yang tak kan pernah dinikmatinya oleh turunannya sekalipun.

Kedua , sekarang tiba-tiba aparat kepolisian ramai diperbincangkan publik di media sosial disebut sebagai “Partai Coklat”. Alias, Parcok.

Ini berarti, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika lembaga ini ketahuan belangnya pada Pilpres 2024 secara privilis memang diberi tugas melakukan pengerahan dan penggiringan suara-suara masyarakat di desa-desa agar tentu saja diarahkan pilihannya bke paslon Pragib.

Betapa begitu sangat keterlaluan dan memalukan ternyata lembaga yang seharusnya netral ini licik dan curang ikutan terseret ke dalam pusaran patron dan pion perusak demokrasi bangsa.

Dan sudah lama Parcok ini menjelma menjadi “Raja-Raja Kecil” teringat ketika Ferdi Sambo yang menjadi Ketua Satgassus Merah Putih dibentuk semenjak era Kapolri Tito Karnavian ternyata menjadi “The Man behind the Gun” orang yang mengepalai tugas khusus secara tersembunyi—yang sesungguhnya secara struktural Presiden sebagai penanggung jawab tak mungkin tidak mengetahuinya.

Me-recovery dalam batas tertentu para pelaku kriminal bandar narkoba, perjudian online, pelaku korupsi, money laundring, prostitusi dlsb itu dipalaki yang boleh jadi menjadi mesin ATM ke Timses pemenangan Jokowi dari 2019-2024 pula.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU