Rezim Israel Berang dan Tuduh Sutradara Film NAZA Pengkhianat, Mengapa?

TEL AVIV (Ngabarin.net)— Film dokumenter pemenang penghargaan berjudul NAZA memicu reaksi keras dari pejabat dan publik Israel dalam beberapa hari terakhir. Film ini mengambil judul dari akronim militer bahasa Ibrani untuk “dampak kolateral” dan menuduh tentara Israel melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil di Gaza.

Kepala Militer Israel, Eyal Zamir, menyebut tuduhan dalam dokumenter tersebut sebagai “fitnah keji.” Ia memerintahkan pejabat hukum untuk mengkaji langkah hukum serta menyelidiki dugaan kebocoran informasi rahasia.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menilai film tersebut “keterlaluan.” Netanyahu menuduh karya itu berkontribusi pada apa yang ia sebut sebagai “hasutan antisemitik” global.

Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, menuduh kedua sutradara film, Yuval Abraham dan Rachel Szor, melakukan “pengkhianatan terhadap negara.” Zohar menyerukan pemeriksaan untuk pencabutan kewarganegaraan mereka serta mengancam akan menjatuhkan sanksi bagi lembaga yang menayangkan film tersebut.

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, turut menyebarkan video hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang memperlihatkan kedua sutradara berada di balik jeruji besi.

Gelombang kemarahan meluas ke media sosial hingga para sutradara dibanjiri hinaan dan ancaman pembunuhan.

Para analis menilai situasi politik yang memanas menjelang pemilihan umum Israel pada Oktober mendatang turut menyulut reaksi keras tersebut. Kondisi ini berbanding terbalik saat Abraham dan Szor menayangkan perdana film itu di Festival Film Internasional Venesia pada Kamis (10/9/2026), di mana mereka mendapatkan standing ovation selama 25 menit dan memenangkan Special Jury Prize.

Kepada Channel 13, Abraham mengaku khawatir tidak dapat kembali ke rumahnya. Meski demikian, ia menegaskan pentingnya warga Israel menonton film tersebut untuk mengetahui realitas operasi militer di Gaza.

Kesaksian Whistleblower dan Penggunaan AI

Film berdurasi 80 menit yang diproduksi oleh The Guardian ini dibuat berdasarkan wawancara dengan 24 tentara Israel dan whistleblower dari intelijen militer. Proses perekaman dilakukan malam hari di atap gedung yang menghadap Tel Aviv secara anonim demi melindungi identitas narasumber.

Akronim NAZA merujuk pada perkiraan jumlah warga sipil yang akan tewas atau terluka dalam suatu serangan. Dokumenter ini membongkar sistem pemilihan target di Gaza, termasuk penggunaan alat berbasis AI yang menghitung estimasi korban jiwa sebelum serangan disetujui.

Dalam trailer film tersebut, seorang perwira intelijen membeberkan kemudahan sistem komputer dalam memperkirakan jumlah korban jiwa dari bangunan yang dibom.

“Saya benar-benar bisa mengeklik rumah mana saja dan melihat berapa orang yang akan menjadi korban ketika Anda mengebomnya,” ujar perwira intelijen tersebut.

Melalui artikel di +972 Magazine, para sutradara menegaskan bahwa film ini mengulas perintah dan pola operasi militer secara sistematis, bukan sekadar penyimpangan individu. Pembunuhan massal warga sipil terbukti dimasukkan secara sadar ke dalam kalkulasi pengambilan keputusan militer.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU