Rongrongan Mafia-Mafioso dan Derita Rakyat Makan Haram ‘High Cost’

Perikehidupan kebangsaan Indonesia itu berada di dua lapis keping kepeng uang logam. Dua keping lapis itu akan menentukan kesatuan lapisan nasib rakyat nyata sesungguhnya: selalu berkelindan antara kepentingan politik dan ekonomi.

Kepentingan politik itu tengah teruji dahsyat dari 25 s.d 31 Agustus lalu. Betapa peristiwa demonstrasi besar itu sangat sarat kepentingan. Antara aspirasi murni dan yang menunggangi. Patut diduga keras itu didalanginya bermuara pada arus deras ekstrem legacy pada kekuasaan lama.

Hulunya, berdesakan arus tunggangan antara anteknya demonstran perusuh suruhan dan bayaran dengan kroninya biang penyedia dananya. Biasanya tokoh orang gede berpengaruh dan oligarki asing/aseng mondial yang turut mencampuri. Itu semua jelas-jelas kerjaan para mafia-mafioso politik.

Artinya, mereka bekerja parsial hanya mengeker dan mencari momentum. Untungnya, Prabowo cerdas dan cepat tanggap! Bagaimana jadinya situasi politik Indonesia jika diberlakukan darurat militer. Bakal terjadi bencana lanjutan Indonesia menuju kehancuran akibat chaos dan anarkisme seperti: Suriahisasi, Bangladeshisasi atau Nepalisasi!

Nah, berbeda dengan kinerja para mafia-mafioso politik yang hanya memanfaatkan momentum.Bagi para mafia-mafioso ekonomi bekerja justru sebaliknya! Secara terintegral para mafia-mafioso selalu berupaya bagaimana menjaga kendali ketat kerap memelihara momentum.

Supaya setiap harga-harga komoditi ekonomi yang dikuasainya mereka bisa kendalikan berapapun harganya sesuai keinginan mereka. Itu harus tetap dilanggengkan dan dipermanenkan.Nyekrup! Tidak sekadar momentum instan kayak demonstrasi politik itu tetapi jangka panjang!

Mengeruk keuntungan secara rakus dan serakah! Tak peduli dialami bagi rakyat semesta itu sebagai bukan deret ukur tetapi deret hitung berupa: “derita abadi” sangat mendalam sekalipun. Hanya selalu menelan ludah pahit kegetiran. Karena rakyatlah satu-satunya korbannya yang sesungguhnya memakan haram high cost komoditi-komoditi ekonomi itu.

Ini semua semakin menguatkan dramaturgi tragis memilukan. Rakyat dibiarkan akan selalu terjerumus dalam disparitas jurang sangat dalam kebodohan, keterbelakangan dan kemiskinan sampai kapanpun.

Bayangkan! Di Malaysia tetangga terdekat BBM bensin RON 95 bisa Rp8.750,- per liter setara dengan Pertamax Green seharga Rp13.000,- di Indonesia.

Rakyat jelata sangat dibatasi hanya kebagian RON 82an jelek pertalite itupun masih berharga Rp10.000,- per liter bersiko merusak mesin lagi! Pertamax biasa Rp12.100,- Atau Pertamax Turbo Rp13.200,- harga masih melambung tak terjangkau semakin tak rasional! Yang katanya harga tersebut masih hasil subsidi APBN pula.

Kebutuhan harga sembako bagi rakyat tak pernah turun. Beras premium oplosan semula Rp64.000,- per 5 Kg kemasan dengan batasan butir pecah 15%. Sekarang naik harga beras premium utuh menjadi Rp110.000,- per 5 kg. Tak sebanding harga naiknya dengan presentase butir pecahnya itu nyaris 95% sendiri.

Dan bisa saja para mafia-mafioso berniat lebih kejam meniadakan atau mengurangi bahan dari sembako, seperti: gula, terigu, minyak goreng, telor, dsb. Dan banderol harga pun bakal jebol dari mekanisme pasar yang ambrol. Ingat! Modus kelangkaan minyak goreng mutu membuat harganya sangat melambung beberapa tahun lalu.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU