Jakarta (Ngabarin.net) — Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dunia Islam kembali berduka. Syekh Ibrahim Al-Madani, salah satu muazin terkemuka di Masjidilharam yang dikenal lantaran keindahan suaranya dan ketekunannya dalam beribadah, dikabarkan meninggal dunia pada usia sekitar 48 tahun pada Senin (21/9/2026).
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh pengelola Dua Masjid Suci melalui akun Facebook Haramain. “Hari ini, muazin Masjidilharam Syekh Ibrahim Al-Madani telah berpulang ke rahmatullah,” tulis akun tersebut.
Sementara itu, akun X Inside the Haramain mengabarkan bahwa kepergian Syekh Al-Madani terjadi tak lama setelah ia mengumandangkan apa yang menjadi azan terakhirnya di Masjidilharam pada Senin, 11 Rabiulawal 1448 H.
“Dengan rasa duka yang mendalam, kami menyampaikan kabar wafatnya Muazin Masjidilharam, Syekh Ibrahim Al-Madani,” ungkap akun tersebut.
Prosesi salat jenazah almarhum dilaksanakan setelah salat Asar di Masjidilharam. Selanjutnya, jenazah dia diantarkan ke peristirahatan terakhir di Pemakaman Al-Ma’la (Jannat al-Mu’alla).
“Kami memohon kepada Allah agar melimpahkan rahmat-Nya yang luas, meninggikan derajatnya di antara orang-orang yang mendapat petunjuk, dan memberinya balasan terbaik atas khidmahnya dalam mengumandangkan azan di Baitullah,” bunyi doa dalam unggahan tersebut.
Jejak Khidmah Mengumandangkan Azan
Lahir di Madinah pada 8 Zulhijah 1397 H (1976 M), Syekh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius. Pendidikan agamanya mendapat pengaruh kuat dari kakek pihak ibu yang merupakan seorang hafiz Al-Qur’an. Ia juga berhasil menyelesaikan kualifikasi akademik formal di bidang Ulumul Qur’an.
Kiprahnya sebagai penyeru salat dimulai sejak usia 15 tahun di sebuah masjid lingkungan tempat tinggalnya di Madinah. Saat itu, ia bertugas secara bergantian bersama tiga warga setempat hingga lulus perguruan tinggi.
Setelah sempat beristirahat dari tugas muazin ketika mengajar di luar Kota Madinah, ia kembali berkhidmat pada 1428 H (2007–2008 M) di Masjid Al-Maddah. Keindahan lantunan azannya menghantarkan dia pada puncak pengabdian ketika diangkat secara resmi sebagai muazin Masjidilharam pada Ramadan 1439 H (2018 M).
Sebagai salah satu dari 24 muazin utama Masjidilharam, ia bertugas dalam rotasi harian mengumandangkan azan lima waktu dan azan pertama Subuh. Lahir di Madinah membuat gaya azannya kental dengan tradisi Madinah, tetapi ia juga memadukannya dengan gaya Makkah yang dipelajarinya dari Syekh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidilharam yang merupakan sahabat kakeknya.
Selain mengumandangkan azan Subuh yang khas dan takbiran, ia bertugas menjalankan fungsi tabligh di Mukabariyah. Tugas ini dilakukannya dengan mengulangi takbir imam agar gaungnya terdengar jelas oleh seluruh jamaah di dalam masjid.
Sisi Tersembunyi di Luar Jangkauan Mikrofon
Di balik keindahan suaranya yang didengar jutaan umat, sosok Syekh Ibrahim dikenal memiliki kesalehan pribadi yang mendalam. Salah seorang rekan muazin menuturkan bahwa almarhum sering menetap berhari-hari di area Mukabariyah tanpa beranjak keluar.
Di tempat khusus tersebut, ia menghabiskan waktunya untuk memfokuskan diri pada ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, terutama pada sepertiga malam terakhir.
Kesaksian ini bukan sekadar ucapan emosional setelah kepergiannya, melainkan penegasan dari orang-orang yang mengenal dekat kesehariannya. Mereka menggambarkan dia sebagai sosok dengan keikhlasan, pengabdian, dan ketekunan ibadah yang luar biasa.
Sebuah perjalanan hidup mulia yang dimulai dengan mengumandangkan azan di Madinah pada usia 15 tahun, kini berakhir setelah bertahun-tahun menyeru jutaan manusia menuju salat dari Baitullah.[dbs]







