UBN: Jurnalis Muslim Harus Jadi Muazin Peradaban, Jangan Menuhankan Algoritma!

Menurut beliau, jurnalis yang istikamah menjaga shalat berjamaah akan jauh lebih hati-hati serta takut kepada Allah dalam menulis dan mengambil keputusan editorial.

Sebaliknya, tulisan yang lahir dari jiwa yang kering tanpa kedisiplinan spiritual berpotensi besar membawa dampak buruk dan kerusakan bagi masyarakat.

UBN kemudian memaparkan empat prinsip utama jurnalisme Islam yang wajib dipegang teguh.

Pertama, jurnalis harus menjadikan kebenaran mutlak sebagai kiblat editorial, bukan tunduk pada kepentingan modal, tekanan politik, ataupun fanatisme kelompok.

Kedua, jurnalis wajib menjadikan keadilan sebagai ruh dalam melakukan pembingkaian (framing) pemberitaan.

Ia mengingatkan dengan tegas agar jurnalis tidak memelintir fakta demi menyerang lawan atau memperkeruh konflik di tengah umat.

Ketiga, jurnalis Muslim harus mutlak menjaga kesucian bahasa jurnalistik yang digunakan.

Menurut UBN, bahasa media bukan sekadar alat informasi biasa, melainkan instrumen pembentuk kesadaran publik yang dapat menjaga atau justru merusak martabat manusia.

Keempat, jurnalis Muslim harus berjiwa kesatria dan siap menghadapi segala bentuk pengorbanan profesional.

Ia menegaskan bahwa ada kalanya berita yang benar itu tidak populer di mata pasar, dan sikap yang lurus sering kali membuat seseorang kehilangan akses ataupun keuntungan duniawi.

“Wanhar itu menyembelih ego, menyembelih ketakutan, menyembelih kerakusan, menyembelih ambisi,” kata UBN.[]

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU