Tak terbantahkan dari perolehan suara Pilpres 2024 lalu Anies itu memang tajir melintir.
Meskipun hanya 24% atau sekitar 40 juta dukungan suara, namun di dalamnya ada kategori voted qualified and qualitied. Itu mayoritas berasal dari kelas menengah.
Artinya, ada suara pilihan genuine berkualitas dengan kualifikasi rasional berkesadaran berdasarkan kewarasan akal sehat. Siapa kelas menengah Indonesia itu?
Mereka itu civil society, masyarakat madani dan mandiri secara ekonomi, sosial dan budaya.
Mereka pulalah yang menginisiasi terbentuknya komunitas sukarelawan politik mandiri yang mendukungnya. Boleh jadi merupakan gerakan pembaharu partisipasi politik rakyat yang mencirikan khasnya tak pernah ada di belahan negara demokrasi dunia di mana pun.
Hingga ratusan organisasi relawan itu selalu menggunakan nama berlabel Anies berjejaring dan tersebar merata di seluruh pelosok tanah air.
Hebatnya partisipasi mandiri kelas menengah ini karena dipacu dan dipicu oleh semangat berakselerasi dan berkeselarasan dengan pergerakan perubahan yang dicanangkan oleh Anies.
Kemudian, menyusul dukungan luar biasa pula saat itu, datang berasal dari masyarakat terdidik, patroner mahasiswa dan pelajar gatra pendemo di jalanan dan rumah parlemen, komunitas intelektualitas dan kalangan civitas akademika.
Serta sebagai pembaharu hadirnya komunitas amiqus quriae dipelopori lebih 300 guru besar universitas di seluruh Indonesia menggelorakan gerakan berkesadaran hukum, etika dan moralitas:
Sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim cawe-cawe politik —yang telah membuat carut marut dan merusak demokrasi.
Tidak saja telah sampai ke tahapan melanggar konstitusi —kolutif Gibran lolos pencalonan Wapres dan sekaligus munculnya dinasti politik hanya 15 hari.







