Ia bahkan menambahkan bahwa para petugas kloter selalu aktif mendampingi seluruh jemaah selama berada di Tanah Suci.
“Setiap perjalanan ibadah itu selalu ada yang mendampingi,” katanya.
Ia mengaku merasa lebih nyaman menjalani ibadah secara mandiri karena tidak terlalu terikat oleh aturan-aturan tambahan.
Selain memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi, jalur mandiri ini juga dinilainya lebih hemat dari segi biaya.
“Kalau saya pribadi, pelayanannya lebih daripada cukup,” ucapnya.
Cerita inspiratif lainnya datang dari seorang dosen asal Sumenep yang bernama E.A.A. Nurhayati Haddjad.
Nurhayati berangkat ke Tanah Suci untuk menggantikan almarhum ayahnya.
Porsi haji keluarga yang awalnya bukan diperuntukkan bagi dirinya tersebut akhirnya dilimpahkan setelah sang ayah wafat.
Di tengah kesibukannya mengajar dan merawat ibunya yang sedang sakit stroke, Nurhayati tetap menyempatkan diri untuk melakukan persiapan secara bertahap.
Ia rutin melakukan olahraga berjalan kaki di sekitar area desa dan taman kota guna melatih ketahanan fisik sebelum keberangkatan.
“Kadang jalan sambil lihat sawah atau ladang saja,” katanya sambil tertawa kecil.
Selain menjaga kebugaran fisik, ia juga aktif memperbarui informasi keagamaan melalui media sosial dan grup komunikasi jemaah.
Menurut pandangannya, ketersediaan informasi digital justru sangat membantu jemaah mandiri dalam memahami situasi terkini di Arab Saudi.
Namun, momen yang paling berkesan bagi dirinya justru adalah kuatnya suasana kebersamaan yang terjalin di antara sesama jemaah.
Pada malam hari, ia sering kali membantu anggota rombongan lain untuk mengisi data identitas atau membaca dokumen perjalanan.
“Dari situ malah jadi dekat satu sama lain,” ujarnya.







