”Merdeka Kedua”

Menancapkan kelanggengan kekuasaan ekonominya bak lintah raksasa menghisap tak henti darah ibu pertiwi.

Lihatlah perjalanan sejarahnya selama 80 tahun itu pula kehidupan dinamika politik negara Indonesia telah melewati dari Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi dengan penggantian kepemimpinan Presiden hingga ke-8, Prabowo Subianto.

Kepemimpinan ke-7 Jokowi Presiden, boleh disebut sebagai paling paradoks biang kekisruhan dan keambulradulan pengelolaan negara.

Dikarenakan rezim berkuasa Jokowilah yang telah membuka pintu dari segala penjuru bagi keleluasaan segala kepentingan penjajah baru itu —yang kini telah berubah sempurna menjadi raksasa oligarki diketuai oleh korporasi konglomerasi “Sembilan Naga”.

Rezim penguasa Jokowi berkongsi dengan penjajah baru itu kaum komunitas para oligarki rent seeking itu dimulai dengan melakukan perusakan bagi kelangsungan demokrasi dan meracuni meluasnya tindak KKN di semua lini pemerintahannya.

Termasuk, mengimbas kepada sistem kelembagaan Trias Politika plus Polri dan TNI. Sehingga, KKN itu telah menjadi alat perusak demokrasi secara masif terstruktur dan sistematis (TSM). Fakta faktualnya itu terjadi pula di Pilpres 2024 lalu.

Sekalipun Jokowi jelang lengser menemukan momentum dimulainya peletakan dasar bagi terbentuknya dinastik politik keluarganya hanya 15 hari membalak melanggar konstitusi.

Sekarang Gibran sudah berada di setengahnya di puncak tertinggi Istana. Nyaris berfungsi sebagai political buffer jika Prabowo berhalangan hadir tetap.

Sedangkan, Jokowi yang sudah berada di luar Istana, dalam kerangka melanggengkan pengaruh dan kekuasaannya, menggunakan senjata politik sandera sebagai alat penjerat siapa pun pelaku KKN itu yang bertujuan akan menganggu stabilitas politik kekuasaannya.

Sementara, penjajah baru para oligkarki pemburu rente itu terus-menerus mem-back up mahkota bertahta berlian Raja Jawa itu demi kepentingan penguasaan ekonominya menjarah dan merajah hingga sampai pada ditemukan keputusan politik pengelabuan atas nama proyek-proyek PSN dengan berlimpah-limpahnya fasilitas privilisi memudahkan apa pun kemauan mereka.

Lihatlah apa yang terjadi PSN PIK 2, Rempang, BSD, dan kota di seluruh sepanjang pantura Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Nusa tenggara, serta pusatnya di IKN yang sangat rapuh secara geopolitik, geografi dan demografi menjadi ibukota negara, adalah indikasi-indikasi yang memungkinkan terjadi aneksasi dan invasi dari suatu poros kepentingan ekonomi lebih besar yang memang tengah diprakarsai oleh Xin Ji Ping pemimpin RRC Tiongkok menciptakan dan mewujudkan imperialisme gaya barunya di pelbagai belahan dunia.

Apalagi, bagi Indonesia “si dara cantik dan surga dunia aduhai” penghuni khatuliswa penyandang kekayaan luar biasa dunia tambang mineral dan energi terbesar di dunia.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU