Begitu kurang ajarnya si keparat Uqbah bin Mu’ith yang memang gemar menyakiti Rasulullah, ia berani melakukan suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun.
Betapa tidak. Uqbah pernah meletakkan kakinya di pundak utusan Allah SWT, makhluk terbaik itu. Akibatnya, lehernya terpotong. Hal itu sebagai balasan yang setimpal atasnya.
Ibnu Ishak bercerita tentang Uqbah bin Mu’ith yang menjadi tawanan perang Badar. Hal ini karena Uqbah turut serta dalam perang Badar di pihak pasukan kaum musyrik. Ia termasuk yang jatuh sebagai tawanan.
Ketika Rasulullah memerintahkan untuk membunuh Uqbah, tentara kafir ini sempat bertanya kepada Nabi, “Sepeninggalanku nanti siapa yang memberi makan anak-anakku, Muhammad?” Beliau menjawab sepontan, “Api”.
Pertanyaan itu juga diucapkan oleh Musa bin Uqbah dalam peperangan-peperangan yang lain. Dan yang ditugasi membunuh Uqbah bin Mu’ith ialah Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aflah.
Ketika Ashim bin Tsabit menghampiri Uqbah dengan maksud hendak membunuhnya, orang muyrik itu berkata, “Hai orang-orang Quraisy, kenapa aku dibunuh di hadapan orang-orang yang berada di sini ini?” Ashim menjawab, “Karena kamu suka memusuhi Allah dan Rasul-Nya.”
Diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Atha’ bin As-Sa’ib dari Asy-Syi’bi ia berkata, “Ketika Nabi menyuruh untuk membunuh Uqbah, orang musyrik itu masih sempat bertanya, ‘Kamu akan membunuhku di depan orang-orang Quraisy, hai Muhammad?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’
Lalu beliau bersabda kepada para sahabatnya, ‘Kalian mau tahu apa yang pernah dilakukan orang ini kepadaku? Satu hari saat aku sedang sujud di belakang makqam Ibrahim, ia meletakkan kakinya di leherku dengan sungguh-sungguh. Ia tidak mau mengangkatnya sampai aku merasa kedua mataku copot. Pada waktu yang lain ia datang dengan membawa usus kambing lalu dilemparkan ke kepalaku ketika aku sedang sujud. Beruntung Fatimah segera datang dan membersihkan kotoran itu dari kepalaku.”
Disebutkan dalam riwayat lain, sesungguhnya ketika akan dibunuh Uqbah sempat bertanya kepada Nabi, “Kamu akan membunuhku di hadapan mereka?”
Beliau menjawab, “Ya, karena kamu pernah meludahi wajahku.” Lalu Allah menurunkan ayat yang menyinggung tentang Uqbah, “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul’,
Sampai pada firman Allah, “Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27-29)[]
Sumber: Sa’ad Yusuf Abu Aziz. Kisah Akhir Hayat Orang-Orang Zalim (terjemahan). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2024.







