Yang tengah memaksakan ambisi kerakusan dan keserakahannya dengan mengintimidasi ribuan hektar tanah rakyat hingga memagari laut berdiri properti raksasa yang berkecenderungan “membangun negara dalam negara”. Akankah ini mengulang sejarah di negeri jiran seperti lepasnya Singapura dari Malaysia. Mau?
Maka, ketika diPilpres 2024, Presiden “genuine” ini berkonstensasi sesungguhnya di dalam keniscayaan politik yang bersih, reasonable dan demokratis. Benang merahnya suatu kebenaran Anieslah yang seharusnya menang.
40 juta pemilih Anies, atau sekitar 24%, adalah pure dari masyarakat kelas menengah. Masyarakat madani dan mandiri, melek politik dan hukum, cerdas dan intelektualitas.
Secara sosial mutual yang menjunjung tinggi etika dan morality, serta ditopang komunitas agamawan. Para pemimpin agama sebagai lokomotif penarik gerbong umatnya yang imani, empati dan simpatik. Termasuk, merekalah yang secara ekonomi mayoritas sebagai penyumbang pembayar pajak terbesar bagi negara.
Seluruhnya, merekalah sejatinya pilar demokrasi di pelbagai belahan negara berkemajuan yang sudah terbuktikan dalam literasi dan diskursus sejarah politik modern: suatu masyarakat perintis dan pelopor yang paling peka untuk menghadirkan kebaruan dan perubahan radikal itu.
Sebaliknya, kemenangan Pragib itu semu, hazard. Mencurinya dengan rekayasa kecurangan dan kelicikan Pemilu. Membodohi mayoritas masyarakat menengah ke bawah yang memang sesungguhnya sudah sungkan, “berketakpedulian dan berkeengganan” politik.
Maka, mudah saja bagi para elite dan kroni politik rezim berkuasa menukarnya dengan imbalan bansos atau politik gentong babi; menuruti kemauan aparat kepala desa, polisi dan anggota TNI yang sudah di_setting_ perannya; merekayasa hasil perhitungan suara Sirekap KPU dan Bawaslu yang ompong tak bertaring dan bertajir; menebar amplop money politic bentuk campur tangan dari para oligarki kaya pendukungnya.
Anies yang tak bermodalkan uang, konsesi dan kolusi jelas “mati”. Dibunuh dengan rekayasa politik oleh para elite politik, rent seeker oligarch dan mafia-mafia kriminal yang justru tengah dilindungi oleh oknum Parcok. Gagallah Anies Presiden.
Namun, hanya kesia-siaan saja Prabowo Subianto Presiden bilamana hanya menjadi boneka Jokowi. Dengan mendampingkan Gibran sebagai wakilnya yang jabatan diraihnya secara inkonstitusional. Kapabilitas dan intelektualitas Gibran yang sangat rendah. Dikuatirkan akan ada dua matahari kembar yang memerintah di negeri ini: Prabowo-Jokowi.
Padahal yang lebih dikuatirkan lagi sesungguhnya tidak hanya dari sekadar matahari kembar itu jikalau kemudian Prabowo menjadikan pemerintahannya junta militer.
Ternyata tidak! Itu terbuktikan, adanya usulan Forum Purnawirawan TNI mengajukan usulan ke DPR/MPR tentang pemakzulan Gibran, Prabowo hanya diam. Itu berarti Prabowo masih dan tetap membiarkan proses pemakzulan itu berlangsung fairness untuk menjaga penegakkan supremasi hukum.
Kesejatian bahwa TNI lahir dari rahim rakyat, menunjukkan marwahnya bahwa TNI itu, adalah penjaga kedaulatan rakyatnya. Itulah pembeda TNI kita dibandingkan dengan tentara militer militeristik yang dibuat oleh negara di manapun belahan negara dunia manapun.







