Regulasi Hutan dalam Islam

Bencana Sumatra masih meninggalkan luka bagi kita. Fakta deforestasi tak terbantahkan, sebagai sebab mendasar bencana ini melanda. Bukan semata alam, tapi ianya bak diundang. Oleh tangan-tangan serakah yang seperti tak lagi bertuhan.

Antara Allah, Bumi, dan Manusia

Tentu saja, jika melihat dari kacamata aqidah hanya Allah-lah sebagai pencipta dan pemilik bumi ini, serta yang paling berhak menetapkan aturan atasnya. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 32:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi.”

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.” (QS. Al-A‘raf: 54).

Lantas, Allah menciptakan manusia dengan misi mewakili-Nya dalam pengelolaan bumi sebagai khalifah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).

QS. Al-Baqarah ayat 30 di atas menjadi dasar penting bahwa manusia diangkat Allah sebagai khalifah di bumi, yakni pemegang amanah untuk mengatur, memakmurkan, dan menjalankan hukum Allah, bukan sekadar tinggal dan menikmati bumi. Manusia wajib terikat dengan hukum yang Allah tetapkan dalam pengelolaan bumi termasuk di dalamnya adalah hutan.

Berpaling

Apa akibatnya jika kita pura-pura tidak tahu dan berpaling dari hukum yang telah Allah tetapkan?

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit, dan pada hari kiamat Kami akan membangkitkannya dalam keadaan buta.” (QS. Tāhā: 124).

Tentu saja, berbagai kerusakan, bencana, dan kesempitan hidup akan terjadi persis seperti yang kita saksikan dan rasakan hari ini. Mirisnya, lagi-lagi rakyatlah yang menjadi korban. Alam tak lagi dilihat dari kelestariannya melainkan dari cuan semata. Hukum-hukum Allah diabaikan dan justru menginstall cara pandang kapitalisme dalam menjalankan roda pemerintahan dan pengaturan. Disinilah kita berada saat ini, pada batas ambang kehancuran.

Padahal jauh sebelumnya Allah juga telah memberi peringatan:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A‘raf: 56).

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU