Sulafah berada tepat di tengah-tengah pasukannya seraya berjalan kian kemari dengan penuh semangat. Ia terus bertakbir dan memobilisasi massa dalam keadaan penuh kegembiraan.
Secara mengejutkan, ia menyaksikan sebatang anak panah melesat cepat ke arah dada putra sulungnya, Mus’ab. Anak panah tersebut menghantam keras hingga tertancap tepat di jantungnya.
Ia segera berlari menghampiri putranya dalam keadaan terguncang dan linglung. Ia lalu bertanya lirih, “Wahai putraku tercinta, siapakah orang yang telah memanahmu?”
Putranya menjawab, “Aku tidak tahu, Ibu. Namun, aku sempat mendengar seseorang berseru: Ambil ini, aku adalah putra Al-Aflah!, lalu anak panah ini seketika mengenaku.”
Sulafah mencoba menguasai dirinya kembali dari keterkejutan tersebut dalam beberapa saat. Namun, kengerian yang jauh lebih besar kembali melandanya untuk kedua kali.
Ia menatap dengan penuh guncangan saat sebatang anak panah baru kembali melesat ke arah kepala putra keduanya, Shafwan. Anak panah tersebut pun tertancap telak di sana.
Ia langsung berlari cepat menghampirinya dan bertanya hal yang sama, “Wahai putraku, siapakah orang yang telah memanahmu?” Putranya pun menjawab, “Aku tidak tahu, Ibu. Namun, aku mendengar seseorang berseru: Ambil ini, aku adalah putra Al-Aflah!, lalu anak panah ini mengenaku.”
Sang ibu hanya bisa terpaku memandangi kedua jasad putranya yang kini telah terbujur kaku. Putra yang satu terbaring di sebelah kiri dengan anak panah di dadanya, sedangkan yang lain terbaring di sebelah kanan dengan anak panah di kepalanya.
Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak meneteskan air mata. Ia justru melangkah pergi membisu di tengah-tengah pasukannya yang mulai tercerai-berai karena kalah.
Ketika telah sampai di kediamannya, ia mengedarkan pandangan namun tidak lagi mendapati Mus’ab maupun Shafwan di sana. Ia pun segera keluar menemui penduduk pedalaman Arab dan berseru lantang di antara mereka.
Ia mengumumkan sebuah sayembara, “Barang siapa yang berhasil membawakanku kepala putra Al-Aflah, maka ia berhak mendapatkan hadiah seratus ekor unta!”
Seratus ekor unta tentu merupakan jumlah harta yang sangat melimpah. Namun, bagaimanakah cara untuk bisa menjangkau dan menebas kepala putra Al-Aflah tersebut?
Dialah sosok sahabat yang Allah kuatkan perjuangan nabi-Nya melalui perantaranya, serta merupakan orang yang paling paham tentang urusan agama. Ia juga merupakan penunggang kuda terbaik yang selalu membela kaum muslim, serta menjadi orang yang paling dekat dan mulia di hati Muhammad saw.







