Iming-iming harta yang dijanjikan oleh Sulafah tersebut berhasil menggiurkan banyak orang. Salah satu orang yang paling tergiur oleh hadiah tersebut adalah Jubair bin Sahm.
Jubair merupakan saudara lelaki Sulafah yang berasal dari satu bapak. Ia dikenal sebagai seorang pria yang tidak populer, tetapi memiliki tipu daya yang sangat tajam jika berniat buruk kepada sesama manusia.
Jubair mulai memutar otak dengan sangat keras dan dalam jangka waktu yang lama. Ia bahkan menghabiskan hari-harinya tanpa tidur sedikit pun hingga berhasil menyusun sebuah rencana matang untuk mendapatkan kepala putra Al-Aflah demi seratus ekor unta.
Jubair kemudian membawa beberapa orang pria yang bertubuh kuat bersamanya. Mereka bergegas pergi menemui Rasulullah saw. demi melancarkan tipu muslihat.
Di hadapan beliau, mereka bersaksi palsu bahwa mereka telah beriman dan masuk Islam, serta mengklaim agama tersebut telah tersebar di kalangan kaum mereka. Mereka kemudian meminta beliau untuk sudi mengirimkan utusan yang dapat mengajarkan syariat agama kepada mereka.
Nabi saw. akhirnya memilih enam orang sahabat terbaiknya untuk mengemban tugas tersebut. Beliau saw. kemudian mengangkat putra Abi Al-Aflah (Asim bin Tsabit) sebagai pemimpin rombongan untuk pergi bersama Jubair dan kelompoknya.
Ketika rombongan utusan tersebut mulai bergerak mendekati perbatasan kota Mekah, Jubair dan kelompoknya secara tiba-tiba menghunus pedang mereka. Sahabat-sahabat Muhammad seketika tersadar bahwa mereka telah dikhianati, sehingga kaum muslim segera menyelamatkan diri ke atas gunung.
Jubair dan kelompok penjahatnya segera mengejar mereka ke atas gunung tersebut. Ia menjanjikan jaminan keselamatan asalkan kaum muslim bersedia menyerahkan kepala Asim bin Al-Aflah kepada mereka.
Akan tetapi, sahabat-sahabat Asim justru menatap ke arah langit seraya bersumpah demi Allah tidak akan pernah menyerahkan rekan mereka. Mereka segera menghunus pedang, lalu pecahlah pertempuran sengit di antara kedua belah pihak.
Pertempuran maut antara kedua kelompok tersebut berlangsung selama berjam-jam lamanya. Para sahabat Nabi saw. bertempur dengan segenap kekuatan dan keimanan mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya yang belum pernah disaksikan dalam sejarah.
Mereka bertempur dengan gagah berani hingga berhasil menumpas hampir seluruh kelompok Jubair. Tidak ada yang tersisa dari kelompok penjahat itu kecuali Jubair, rekannya yang bernama Umairah bin An-Nadhr, serta Al-Abbas bin Amir yang terbaring di tanah mengobati lukanya akibat sabetan pedang seorang muslim.
Jubair dan sisa kelompoknya pada akhirnya berhasil menumpas seluruh kaum muslim di tempat itu. Korban yang tersisa hanyalah Asim bin Al-Aflah yang berada di atas puncak gunung sambil terus bertakbir dan menghindar.
Pengepungan itu terus berlangsung hingga Jubair berhasil melepaskan sebatang anak panah yang bersarang telak di dada Asim. Asim menatap darah segar yang mengalir deras dari dadanya dan anak panah yang menembus jantungnya dengan perasaan penuh kebahagiaan, sebab cita-cita tertingginya adalah mati syahid di jalan Allah.







