Sulafah

Jiwa-jiwa pada malam itu diliputi oleh ketakutan yang mencekam. Sementara itu, kaum Quraisy berjalan dalam keadaan bimbang dan linglung.

Mereka telah mengetahui bahwa Muhammad saw. telah berada di atas gunung untuk memerangi mereka. Beliau saw. sengaja menunggu hingga malam berlalu dan fajar menyingsing, sebab Muhammad tidak pernah memerangi musuh-musuhnya secara culas melalui pengkhianatan.

Hanya dalam hitungan jam, malam akan tersingkap dan fajar akan terbit. Saat itulah Muhammad beserta pasukannya akan melancarkan serangan kepada Quraisy.

Sulafah menyaksikan semua kepanikan ini, lalu ketakutan yang melanda kaum Quraisy pun turut merasuki dirinya. Kendati demikian, hatinya sama sekali tidak mengenal kata putus asa.

Ia merupakan wanita Quraisy yang paling jelita di antara kaumnya. Selain itu, ia adalah wanita yang paling mampu menggerakkan kaum pria menuju jurang kematian.

Baginya, hal tersebut tidak mengorbankan apa pun kecuali sebuah senyuman manis. Atau, ia cukup memberikan sedikit dari hartanya yang melimpah ke tangan pria mana pun yang ia kehendaki.

Sulafah melihat dengan jelas bahwa ketakutan terhadap Muhammad telah memenuhi hati penduduk Mekah. Oleh karena itu, ia mulai berteriak lantang di tengah-tengah mereka.

Orang-orang pun segera berkumpul di sekelilingnya demi menantikan apa yang akan ia katakan. Mereka kemudian berseru kepadanya, “Carikanlah jalan keluar bagi kami dari kengerian yang akan segera menimpa kita ini!”

Sulafah adalah orang Mekah yang paling ingkar terhadap risalah Muhammad sekaligus yang paling membencinya. Ia pun segera berdiri di atas sebuah batu besar dan berteriak lantang ke arah massa sebanyak tiga kali.

Pada saat itu, kedua putra kesayangannya, Mus’ab dan Shafwan, berdiri mendampinginya di sisi batu tersebut. Ia berseru, “Wahai penduduk Mekah, diharamkan bagi kalian meminum khamr dan mendekati wanita jika kalian tidak bergerak memerangi Muhammad!”

Namun, ternyata tidak ada seorang pria pun yang menanggapi teriakan histerisnya tersebut. Melihat hal itu, ia langsung merebut sebilah pedang dari salah satu putranya dan mengacungkannya tinggi-tinggi.

Ia kemudian menegaskan, “Kaum wanita yang akan maju memerangi Muhammad jika kalian, wahai kaum pria, enggan memeranginya!” Baru pada saat itulah orang-orang tersadar dari ketakutan mereka, lalu bergegas maju di belakangnya ke padang pasir bagaikan binatang buas.

Kedua pasukan tersebut akhirnya bertemu di dekat area pegunungan. Pasukan itu terdiri atas barisan kaum muslim dan barisan kaum musyrik.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU