Judul tulisan di atas merupakan arti dari hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan imam Al-Bukhari, yaitu:
«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»، رَوَاهُ البُخَارِيُّ
Itu merupakan petunjuk bahwa dalam melaksanakan shalat harus ittiba’ Rasul, tidak boleh asal shalat. Karena shalat merupakan ibadah ‘mahdhah’ yang sudah terperinci tata caranya diterangkan dan dipraktekkan Rasulullah saw.
Untuk itu, setiap muslim wajib mempelajarinya baik langsung membaca hadits atau melalui ustaz atau kiai yang paham betul ‘kaifiyah shalat’ yang sesuai sunnah Rasul.
Shalat merupakan barometer diterima tidaknya amal ibadah seorang muslim. Untuk itu jangan sampai dari kecil sampai tua shalatnya tidak diterima Allah sebagaimana yang Rasul informasikan ada seseorang sampai 60 tahun shalatnya tak diterima lantaran rukuk dan sujudnya tidak sempurna, alias tidak thuma’ninah, sabdanya:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ، وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ
“Sesungguhnya ada seseorang yang shalat selama 60 tahun, namun tidak diterima (oleh Allah) amalan shalatnya selama itu walau satu shalatpun. Boleh jadi (sebabnya) dia sempurnakan ruku’-nya tetapi sujudnya kurang sempurna, demikian pula sebaliknya.” (Hadis Hasan, riwayat Ibn Abi Syaibah dari Abu Hurairah ra, Shahih al-Targhib, no. 596).
Jadi Rasul tidak main-main memberikan informasi kasus seseorang yang hingga selama 60 tahun shalatnya tidak diterima.
Ada juga seseorang yang shalatnya jelek, oleh Rasul disuruh ngulang sampai tiga kali. Rasul bersabda:
ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
(Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya kamu tidak shalat).







